JABAR EKSPRES – Suhu udara di sejumlah wilayah Jawa Barat (Jabar), khususnya Bandung dan sekitarnya, belakangan terasa lebih gerah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung pun memberikan penjelasan terkait kondisi tersebut.
Kepala Sub Bagian Tata Usaha Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Edi Wibowo, mengatakan kondisi udara yang terasa gerah dipengaruhi oleh pertumbuhan awan konvektif secara lokal di sejumlah wilayah Jawa Barat.
“Sedikit penjelasan mengenai suhu udara akhir-akhir ini (terasa gerah), yaitu terdapat pertumbuhan awan konvektif secara lokal,” kata Edi, Kamis (20/8).
Baca Juga:Tim Gabungan Berjibaku Padamkan Kebakaran Gardu Listrik Pabrik Gula di SingaparnaKorban PHK di Cimahi Tak Dibiarkan Terpuruk, Pemkot Dorong Bangkit Lewat Usaha Laundry
Menurutnya, pertumbuhan awan konvektif tersebut membuat suhu udara minimum, khususnya di Bandung dan sekitarnya, berada pada kondisi cukup hangat dalam dua hari terakhir. Kondisi tersebut semakin membuat udara terasa gerah karena tingkat kelembapan yang cukup tinggi.
“Suhu udara minimum cukup hangat dua hari terakhir pada kisaran 21–22 derajat Celsius, kelembapan udara cukup lembap 55–80 persen, sehingga kondisi udara terasa panas dan lembap,” ujarnya.
Edi menjelaskan, kombinasi suhu minimum yang hangat dan kelembapan udara yang tinggi membuat proses penguapan keringat dari permukaan kulit menjadi lebih lambat. Akibatnya, suhu yang dirasakan tubuh dapat lebih tinggi dibandingkan suhu yang tercatat pada termometer.
“Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor lokal, belum menuju ke peralihan musim (kemarau ke penghujan),” ungkapnya.
Lebih lanjut, Edi mengatakan dinamika atmosfer dalam beberapa hari ke depan masih berpotensi mendukung suplai uap air dan pertumbuhan awan konvektif secara lokal di sebagian wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung dan sekitarnya.
“Kondisi ini dipengaruhi suhu muka laut yang masih relatif hangat di sebagian perairan Indonesia. Selain itu, gelombang Kelvin diprakirakan aktif di wilayah Jawa Barat,” pungkasnya.
