JABAR EKSPRES – Pengamat Kebijakan Publik Universitas Padjadjaran (Unpad), Asep Sumaryana, menyoroti efektivitas kebijakan pengurangan kantong plastik di Kota Bandung dalam program uji coba Pasar Bebas Plastik.
Menurut Asep, kebijakan tersebut belum sepenuhnya menyentuh tujuan awal, yakni meminimalisir penggunaan plastik di masyarakat.
“Yang perlu ditanam dulu adalah bahwa ada kebijakan meminimalisir penggunaan plastik. Tapi pedagang modern menyiapkan plastik tapi dijual,” ujar Asep kepada Jabar Ekspres saat dikonfirmasi, Jumat (11/7)
Baca Juga:AHY Tinjau Depo KCIC Tegalluar, Soroti Kesiapan Operasional dan Edukasi Warga Terkait Layang-layang25 Hektare Lahan di Kawasan Puncak Bogor Hilang Akibat Alih Fungsi Lahan
Dia menilai, kondisi ini menimbulkan kesan bahwa konsumen hanya diarahkan untuk membeli kantong plastik, bukan menguranginya.
Menurut Asep, kebijakan menjual kantong plastik seharusnya menjadi instrumen pengurangan, namun praktiknya justru tidak tersampaikan dengan benar ke masyarakat.
“Dengan harga plastik yang diuangkan itu, harusnya jadi wujud pengurangan. Tapi tidak sampai ke masyarakat. Jadi sebetulnya tujuan kebijakan itu tidak sampai,” ucapnya.
Asep menekankan perlunya internalisasi kebijakan secara menyeluruh, mulai dari pemerintah, pengelola pasar, hingga pedagang dan konsumen. Dia menyoroti minimnya sosialisasi di lapangan.
Asep menyarankan perlunya duduk bersama antara pedagang dan pengusaha dalam menyikapi implementasi kebijakan ini.
“Tidak ada pengumuman seperti itu. Jadi kalau disosialisasikan kebijakan itu, sekarang tujuannya tidak sampai,” kata dia.
Program uji coba Pasar Bebas Plastik merupakan kolaborasi antara Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) dan Pemerintah Kota Bandung.
Baca Juga:Konfederasi Serikat Buruh International Berikan Penghargaan kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit PrabowoKejagung Ungkap Kerugian Negara di Kasus Minyak Mentah Capai Rp285 Triliun
Diketahui, inisiatif ini mendukung pelaksanaan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.
Dia juga mengingatkan adanya potensi penyimpangan tujuan jika kondisi ini dibiarkan. “Sekarang jadi salah kaprah. Takutnya malah dipertahankan pedagang. Normalisasi dan itu tidak boleh terjadi,” katanya.
