Alhasil, ucap Akbar, jembatan yang harusnya jadi solusi malah berubah jadi rintangan. Maka, tak heran bila banyak orang akhirnya memilih ‘potong kompas’, nekat menyeberang langsung di tengah jalan.
“Bukan karena tak tahu risiko, tapi karena itulah opsi paling masuk akal di tengah tata kota yang tak berpihak pada pejalan kaki,” ucapnya.
Lalu Lintas Kita Maju Kendaraannya, Tertinggal Budayanya
Fenomena ini disampaikan Akbar jadi cermin betapa budaya berlalu lintas kita belum berpihak pada pejalan kaki.
Baca Juga:Wacana Penghapusan Trayek Angkot di Bandung, Pakar ITB: Solusi Tambal Sulam yang Bisa Timbulkan Masalah BaruTangani Dampak Bencana, Bupati Bogor Gerakkan Gotong Royong dan Tanam Ribuan Pohon
Dia mengungkapkan, di banyak negara maju, mobil otomatis melambat atau berhenti begitu melihat ada orang berdiri di zebra cross.
“Di sini, yang terjadi justru sebaliknya, klakson dibunyikan sebagai peringatan agar pejalan kaki minggir. Bahkan tak sedikit, pengemudi malah menambah kecepatan saat melihat ada yang hendak menyeberang,” ungkap Akbar.
“Zebra cross seolah kehilangan makna, sekadar hiasan aspal, dan pejalan kaki diperlakukan seperti pengganggu arus lalu lintas,” lanjutnya.
Situasi ini menunjukkan betapa minimnya empati, rendahnya penghormatan terhadap hak pejalan kaki, dan absennya budaya berbagi ruang yang adil di jalan.
Pemerintah Perlu Hadir Berikan Hak Pejalan Kaki
Oleh sebab itu, dijelaskan Akbar perlu adanya langkah perubahan. Pemerintah diharuskan memberikan fasilitas layanan hak pejalan kaki secara penuh.
“Revitalisasi fasilitas penyeberangan harus jadi prioritas. Mulai dari menambah zebra cross di titik-titik strategis,” jelasnya.
Tak sebatas itu, Akbar juga menyarankan agar pemerintah mampu memperbaiki pencahayaan di malam hari, termasuk memasang pelican crossing otomatis.
Baca Juga:Geger di Ciampea! Bayi Laki-Laki Ditemukan Terbungkus Kantong Hitam di Tebing SungaiKasih Waktu Sampai Jumat, API Jabar Bakal Demo jika Pergantian Nama RSUD Al Ihsan Tak Dibatalkan
“Jangan lupa membenahi JPO, agar ramah bagi lansia (lanjut usia) serta penyandang disabilitas. Rambu dan marka harus jelas dan mudah dipahami,” tururnya.
Akbar menyampaikan, di sejumlah kota negara maju, bahkan sudah memakai lampu penyeberangan adaptif berbasis sensor atau AI, yang bisa menyesuaikan durasi nyala lampu berdasarkan jumlah pejalan kaki.
“Teknologi ini bukan hanya mengurangi waktu tunggu, tapi juga meningkatkan keselamatan secara signifikan,” paparnya.
Menurut Akbar, daerah yang baik itu harus mampu menghadirkan rasa aman bagi seorang nenek yang menyeberang, anak kecil yang berjalan ke sekolah, atau penyandang disabilitas yang menuju halte.
