Di tengah gelombang perubahan politik dan demografis, Agus mengakui bahwa PPP masih lemah dalam menjangkau pemilih pemula, khususnya generasi Z dan milenial.
Untuk itu, program-program baru yang menyasar kelompok muda mulai digulirkan, seperti Sekolah Penggerak Partai (SPP).
“Kami sadar kelemahan kami ada di pemilih muda. Dua minggu lalu, PPP Kabupaten Bogor sudah jalankan Madrasah Penggerak Kader. Di Cimahi kami susul dengan SPP. Pesertanya 100 persen Gen Z dan milenial. Kami ingin mereka paham PPP, bahkan bisa menyebarkan gagasan PPP ke lingkungan mereka,” jelas Agus.
Baca Juga:Wali Kota Bandung Berencana Hapus Trayek Angkot, Ini Tanggapan OrgandaNerikomi Memetika, Meresapi Ekspresi Seni Keramik Karya Sasanti
Dengan pelatihan LKKD ini, Agus berharap lahir kader-kader muda yang militan dan mampu membawa nama PPP kembali diperhitungkan, tidak hanya sebagai peserta Pemilu, tapi juga sebagai kekuatan politik yang dirindukan masyarakat.
“Kader hasil LKKD ini harus jadi ‘market’ PPP di tengah masyarakat. Mereka harus mampu bersaing dengan kader partai lain untuk merebut hati masyarakat, terutama di Cimahi,” pungkasnya. (mong)
