“Artinya, bukan rumah yang berat dan menjulang tinggi. Tapaknya harus lebar dan bangunannya jangan terlalu tinggi. Itu untuk mengurangi risiko,” jelas Andy.
Meski belum bisa dipastikan secara ilmiah, curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir turut diduga menjadi faktor pemicu. Kondisi cuaca yang tak menentu, dengan hujan masih kerap turun meski sudah memasuki musim kemarau, semakin memperbesar risiko.
“Harusnya sekarang sudah kemarau, tapi dalam dua hari sekali hujan masih turun. Cuaca memang sedang anomali. Itu bisa jadi salah satu penyebab terjadinya pergerakan tanah,” ucap Andy.
Baca Juga:Latihan Kepemimpinan PPP, Modal Bangkit dari Ketiadaan Kursi di ParlemenPersib Bandung Ditahan Imbang Dewa United 1-1, Gol William Marcilio Terbalas Pinalti di Menit Akhir
Namun demikian, BPBD Cimahi belum secara resmi meminta PVMBG untuk melakukan kajian ulang di RW 20, lantaran skala kejadian ini belum tergolong masif seperti kasus sebelumnya di RW 19.
“Kita masih pantau. Belum kita minta PVMBG turun, karena skalanya belum sebesar yang lalu. Masih kita amati,” tutur Andy.
BPBD Cimahi sendiri tak hanya bersiaga saat bencana terjadi. Mereka secara berkala melakukan kontrol, kunjungan lapangan, serta sosialisasi di kawasan rawan bencana. Edukasi dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi bagian penting dalam strategi mitigasi jangka panjang.
“Kami rutin turun ke lapangan. Kami bukan hanya bergerak saat kejadian. Kami terus melakukan sosialisasi dan kontrol agar masyarakat di kawasan rawan lebih siap, baik dalam mitigasi maupun evakuasi mandiri,” paparnya.
Sementara itu, warga yang rumahnya terdampak memilih tetap bertahan. Belum ada relokasi karena dampaknya dinilai masih ringan, hanya retakan dan penurunan lantai di area teras masuk.
“Tidak ada relokasi. Karena dampaknya minor. Yang terdampak pun bukan di dalam rumah, tapi di bagian luar, di jalan teras masuk,” tandas Andy. (Mong)
