‘Kami di Bawah Lereng’: Ketika Warga Bandung Hidup di Bawah Ancaman Alam

Foto ilustrasi pemukiman di dataran tinggi Kota Bandung (Jabarekspres)
Foto ilustrasi pemukiman di dataran tinggi Kota Bandung (Jabarekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Setiap sore, Rahmat (29), warga Jalan Bukit Pakar Timur, Dago memandang langit dengan cemas. Hujan deras yang makin sering turun di bulan-bulan ini membangkitkan kembali ingatan pahit dua tahun lalu, saat tanah longsor dari bukit di atas tempat tinggalnya nyaris menutup jalan utama.

“Dulu longsor kecil, sekarang kami takut kalau yang turun lebih besar,” katanya, kepada Jabarekspres Jumat (4/7).

Bagi warga di kaki-kaki dataran tinggi utara Bandung seperti Dago Atas, Ciumbuleuit, hingga Cikutra, ancaman longsor dan banjir bandang bukan hal baru.

Baca Juga:Pemerintah Genjot Subsidi Rumah Rakyat, Rp18,77 Triliun Tersalur untuk 115 Ribu UnitInspektorat Banjar Turun Tangan, Periksa Oknum Perangkat Desa Mulyasari

Tapi belakangan, kekhawatiran ini meluas ke pusat kota. Bukan hanya karena perubahan iklim dan pembangunan tak terkendali, tapi karena para ahli memperingatkan bahwa patahan Lembang yang membentang tak jauh dari kota sedang “gelisah”.

Susi (33) warga Cikutra, mengaku baru tahu bahwa daerahnya masuk zona rawan dari aktifitas gempa yang dihasilkan oleh pergerakan Sesar Lembang. Padahal, dirinya berfikir bahwa pusat kota merupakan wilayah yang aman dari aktifitas bencana apapun.

“Selama ini kami pikir aman karena deket kota. Ternyata enggak yah,” ujarnya.

Warga lain di sekitar Arcamanik dan Antapani juga mulai mengeluhkan air dari hulu yang datang deras saat hujan. Bahkan dua hari lalu, Antapani dikepung banjir akibat intensitas curah hujan yang tinggi pada waktu tersebut.

“Dulu air nggak segila ini. Sekarang baru satu jam hujan aja udah tergenang semua,” keluh Darman (50), pedagang makanan kaki lima di sekitar Antapani Tengah.

Hal ini bisa disimpulkan bahwa mereka bukan ahli geologi, tapi pengalaman hidup mengajarkan bahwa Bandung makin tak menentu.

Tak semua warga sadar bahwa Bandung berdiri di atas ancaman gempa yang serius. Dalam survei cepat yang dilakukan jabarekspres kepada 20 masyarakat, hanya 8 orang yang mengetahui adanya patahan aktif Lembang. Sisanya mengira Bandung aman dari gempa karena letaknya jauh dari laut.

Baca Juga:Kumuh dan Semrawut, Kolong Tol Cisumdawu di Cileunyi Akan Disulap Jadi Ruang Publik ProduktifKerja Sama Lintas Batas Cimahi-KBB, Ngatiyana Soroti Urusan Inflasi hingga Tapal Batas

Padahal, menurut hasil penelitian Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), patahan Lembang bisa menyebabkan gempa besar yang merusak.

Kesadaran perlahan tumbuh di tingkat akar rumput. Di RW 02 Arcamanik, sekelompok warga membentuk Tim Tanggap Darurat Swadaya.

0 Komentar