Lewat kelompok ini, lahir drainase-drainase yang berfungsi optimal dikala hujan turun. Meskipun terdapat genangan, air hanya bertahan 5-10 menit.
Namun, upaya seperti ini masih sporadis. Tak semua kelurahan memiliki sistem tanggap bencana yang memadai. Bahkan, banyak RT/RW belum memiliki jalur evakuasi atau titik kumpul apabila banjir atau gempa menerjang
“Kami butuh peta rawan bencana skala lokal, bukan cuma yang umum dari pusat,” Taufik Ramadhan.
Baca Juga:Pemerintah Genjot Subsidi Rumah Rakyat, Rp18,77 Triliun Tersalur untuk 115 Ribu UnitInspektorat Banjar Turun Tangan, Periksa Oknum Perangkat Desa Mulyasari
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengakui tantangan tersebut. Maka dari itu, pihaknya kini tengah mengeksplorasi penerapan teknologi sensory dan sistem intelijen kebencanaan berbasis data.
Teknologi ini diharapkan dapat membantu dalam memetakan potensi risiko bencana secara lebih presisi dan real-time.
Terutama, fokus diarahkan pada deteksi dini terhadap risiko-risiko bencana yang berkaitan dengan kondisi geologis Kota Bandung yang berada di jalur patahan aktif salah satunya Sesar Lembang.
“Beberapa teknologi sensory juga sedang kita jajaki. Dan yang terutama tentunya adalah bagaimana kita bisa membaca risiko-risiko yang bisa terjadi karena adanya bencana-bencana, terutama risiko karena kita berada di patahan Sesar Lembang,” ungkapnya. (Dam)
