KCD 13 Ciamis Cuci Tangan atas Dugaan Kasus Korupsi Pembangunan SMKN 1 Cijeungjing?

Rudianto, salah satu pejabat di KCD Pendidikan wilayah Xlll Ciamis saat diwawancara awak media belum lama ini. (Cecep Herdi/Jabar Ekspres)
Rudianto, salah satu pejabat di KCD Pendidikan wilayah Xlll Ciamis saat diwawancara awak media belum lama ini. (Cecep Herdi/Jabar Ekspres)
0 Komentar

Sikap defensif dan pasif KCD ini semakin kontras dengan tuntutan tajam para pengunjuk rasa. Mereka tidak hanya menyoroti proyek mangkrak SMKN 1 Cijeungjing sebagai sebuah insiden tunggal, melainkan menunjukkannya sebagai gejala dari penyakit akut yang melanda KCD Wilayah XIII.

Poster-poster yang teracung tinggi ‘Kepala KCD 13 Gagal Menjalankan Mandat!’, ‘Kinerja buruk, pecat!’, ‘KCD 13 Gagal Jaga Mutu Pendidikan Banjar Ciamis Pangandaran!’. Sorotan utama tertuju pada pucuk pimpinan, Kepala KCD XIII, Widhy Kurniatun.

“Kinerja KCD Wilayah XIII, khususnya di bawah pimpinan Ibu Widhy Kurniatun, sangat tidak jelas dan jauh dari harapan,” tegas Romy Aji Muharam, Koordinator Lapangan aksi.

Baca Juga:Rencana Perpanjangan Jam Operasional Taman di Kabupaten Bogor, DPKPP Bakal Lakukan Evaluasi!Terjadi Peningkatan, Polisi Buru Otak Pengedar Ekstasi di Kota Bandung

Dengan nada kecewa yang mendalam, ia menegaskan bahwa KCD tidak bisa lepas tangan dari kualitas pendidikan SMA/SMK di tiga kabupaten yang semakin merosot.

“Lihat saja bukti nyatanya, pembangunan SMKN 1 Cijeungjing yang mangkrak bertahun-tahun! Ini cerminan gagalnya pengawasan dan komitmen KCD terhadap peningkatan sarana pendidikan. Bagaimana mutu pendidikan bisa meningkat jika infrastruktur dasar saja terbengkalai?” katanya.

Menurutnya, masalah yang dihadapi bersifat sistemik dan merambah ke berbagai aspek vital KCD.

“Mulai dari pengelolaan anggaran yang tidak transparan, pembinaan sekolah yang minim, hingga respons terhadap permasalahan di lapangan yang lamban dan tidak solutif,” paparnya dengan rinci.

Kritik paling pedas adalah bahwa KCD dinilai seperti kehilangan arah dan tidak memiliki sense of crisis terhadap kondisi pendidikan yang sebenarnya memprihatinkan. Analisis ini menggambarkan sebuah lembaga yang tidak hanya gagal menjalankan tugas teknis, tetapi juga kehilangan visi dan kepekaan terhadap krisis yang melanda dunia pendidikan di wilayahnya.

Respons KCD yang bersembunyi di balik proses hukum di Kejaksaan, sambil menunggu siapa yang bertanggung jawab dari luar, semakin memperkuat narasi pelepasan tanggung jawab.

Tuntutan mahasiswa pun jelas dan tegas, pencopotan Widhy Kurniatun dari jabatannya. Mereka menilai sang Kepala KCD tidak becus dan tidak memiliki kapasitas memadai untuk memimpin lembaga strategis yang menentukan masa depan pendidikan ribuan siswa di tiga kabupaten.

Baca Juga:Sesuai Keputusan Gubernur Jabar, RSUD Al Ihsan Berganti Nama Jadi RS Welas AsihMensesneg Sebut Pemerintah Bentuk Tim Kaji Putusan MK Terkait Pemisahan Pemilu

Sebelumnya, Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar telah menegur Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) XIII. Hal itu terkait sejumlah isu dan peristiwa yang mencuat diwilayahnya. Hal itu diungkapkan Kepala Disdik Jabar Purwanto, Selasa (1/7).

0 Komentar