“Hal senada juga disampaikan oleh Kavaratzis tahun 2004 yang menegaskan bahwa nama dengan akar budaya yang kuat akan lebih mudah diangkat sebagai identitas destinasi wisata, budaya, dan ekonomi kreatif dalam konteks place branding,” sambungnya.
Lanjut Fikri mengatakan, dengan tagline “Menjadi Kuat dari Akar, Terbang Menuju Masa Depan”, inisiatif perubahan nama ini diharapkan bukan sekadar pergantian administratif, melainkan sebagai simbol transformasi identitas dan arah baru pembangunan yang berkelanjutan.
Proses perubahan nama ini diperkirakan akan memakan waktu panjang dan membutuhkan tahapan-tahapan resmi, termasuk kajian akademik, konsultasi publik, hingga persetujuan pemerintah pusat.
Baca Juga:Sidekah Bumi di Kampung Sawah Mulyaharja Bogor, Warisan Budaya Abad ke-17Layanan Prioritas hingga Jemput Bola, Cara Samsat Cimahi Layani Lansia, Ibu Hamil, dan Disabilitas
“Melihat potensi ini, berbagai pihak optimis, selama proses dilakukan secara transparan, demokratis, dan melibatkan semua elemen masyarakat, hasilnya akan menjadi fondasi penting bagi kemajuan daerah,” tandasnya. (wit)
