5. JD.ID: E-Commerce Asing yang Gagal Bersaing di Tanah Air
Sebagai anak usaha JD.com dari Tiongkok, JD.ID masuk ke Indonesia dengan ambisi besar. Namun, strategi yang kurang agresif, kalah promosi, serta minimnya dana segar membuat JD.ID menutup layanan pada Maret 2023.
Ini menegaskan bahwa meski datang dari raksasa global, tidak semua bisa bertahan di pasar lokal yang kompetitif. Nama JD.ID kini ikut mengisi daftar perusahaan bangkrut Indonesia dari sektor digital.
6. Sritex: Raksasa Tekstil yang Dihantam Utang
PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) adalah nama besar di dunia tekstil Indonesia, bahkan mengekspor produknya hingga ke luar negeri.
Baca Juga:5 Rekomendasi Sepatu Gunung Kuat dan Tahan Lama untuk Pendakian 20257 Cara Sehat Rilis Emosi agar Hati Lebih Lega dan Pikiran Tenang
Namun, gagal bayar utang senilai US$ 31,67 juta membuat perusahaan ini dinyatakan pailit pada 2024. Dalam daftar perusahaan bangkrut Indonesia, Sritex adalah contoh nyata bahwa skala besar tidak selalu menjamin keberlanjutan bisnis.
7. Airy Rooms: Startup Wisata yang Lenyap Diterpa Pandemi
Airy Rooms pernah jadi pilihan populer bagi wisatawan hemat di Indonesia. Sayangnya, pandemi Covid-19 menghantam keras sektor pariwisata dan membuat perusahaan ini menghentikan seluruh operasinya pada Mei 2020.
Tanpa pendapatan dan dukungan modal, Airy akhirnya gugur dan menambah panjang daftar perusahaan bangkrut Indonesia di era digital.
Di Balik Daftar Perusahaan Bangkrut Indonesia: Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Dari kisah-kisah di atas, tampak jelas bahwa kejayaan masa lalu tidak menjamin masa depan. Banyak faktor yang menyebabkan perusahaan jatuh, seperti:
Kurangnya inovasi dan adaptasi teknologi
Pengelolaan utang yang buruk
Persaingan yang semakin ketat
Krisis eksternal seperti pandemi
Konflik internal yang merusak fondasi perusahaan
Melihat daftar perusahaan bangkrut Indonesia ini, kita belajar bahwa hanya perusahaan yang bisa berubah dan tumbuh mengikuti zaman yang bisa bertahan dalam jangka panjang.
Masuknya nama-nama besar dalam daftar perusahaan bangkrut Indonesia adalah pengingat keras bahwa dunia bisnis terus bergerak. Tidak peduli sebesar apa pun brand yang dibangun, jika perusahaan tidak mampu membaca arah pasar, mengelola utang dengan bijak, dan berinovasi, maka kehancuran bisa terjadi kapan saja.
