Pembangunan SMKN 1 Cijeungjing di Lereng Tebing, Rp2,6 Miliar Sia-Sia

Kondisi lantai bangunan SMKN 1 Cijeungjing di samping tebing rusak parah bahkan terancam ambruk, Senin (23/6/2025). (Cecep Herdi/Jabar Ekspres)
Kondisi lantai bangunan SMKN 1 Cijeungjing di samping tebing rusak parah bahkan terancam ambruk, Senin (23/6/2025). (Cecep Herdi/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Di tengah hamparan perkebunan warga, jauh dari keriuhan pusat aktivitas, tiga bangunan berdiri sepi dan terasing. Bukan simbol kemajuan pendidikan, melainkan monumen pemborosan dan pengabaian.

Ruang Kelas Baru (RKB) SMK Negeri 1 Cijeunjing di Kecamatan Cijeunjing, Kabupaten Ciamis, yang menelan anggaran Rp2,6 miliar, kini menjelma menjadi bangunan mangkrak yang perlahan-lahan ditelan alam dan kerusakan.

Investasi besar-besaran untuk masa depan generasi bangsa itu merugi sia-sia, menyisakan tanda tanya besar carut-marut pengelolaan uang rakyat.

Baca Juga:Pasca Cedera, Guardiola Awasi Ketat RodriPenerbangan Domestik di Bandara Kertajati Menghilang, Tinggal Layanan Internasional

Mencapai lokasi sekolah ini ibarat menguji nyali. Jalan desa yang dipermak cor, sebagian sudah menganga retak-retak dan berlubang, menjadi gambaran awal pengabaian. Suasana semakin sunyi ketika memasuki kawasan sekolah.

Hanya beberapa rumah warga yang terpencil di sekitar kompleks. Kesepian itu bukan tanpa alasan. SMKN 1 Cijeunjing dibangun di lokasi yang terpencil, jauh dari pusat permukiman, seolah sengaja disembunyikan atau terputus dari denyut nadi masyarakat yang seharusnya dilayaninya.

Namun, keterpencilannya bukan satu-satunya masalah fatal. Pilihan lokasi yang gegabah di pinggir tebing menciptakan bencana struktural yang dapat disaksikan langsung.
Sebagian bangunan ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu, kini menunjukkan kerusakan parah. Tampak jelas kemiringan yang mengkhawatirkan pada struktur bangunan.

Lantai keramik yang terpasang telah lepas dan pecah berantakan, sementara dinding-dindingnya dihiasi retakan besar bak lukisan abstrak kesalahan konstruksi. Ancaman paling nyata datang dari tembok penahan tebing di samping bangunan yang sudah rapuh dan terancam longsor.

Ironi terpampang nyata, gedung senilai miliaran rupiah itu tidak berfungsi sama sekali. Tidak ada aktivitas belajar-mengajar, tidak ada riuh siswa, hanya tanaman merambat yang tumbuh subur merayapi dinding dan jendela, menjadi saksi bisu kehancuran yang perlahan. Rp2,6 miliar uang rakyat yang seharusnya menjadi investasi cerdas untuk mencerdaskan kehidupan bangsa terkubur dalam keheningan pelosok, tanpa pernah memberikan manfaat berarti.

Alih-alih menjadi pusat pembelajaran, bangunan ini lebih menyerupai kuburan anggaran yang menimbulkan pertanyaan kritis, benarkah proyek ini dari awal ditujukan untuk pendidikan, atau sekadar menjadi sapi perahan bagi pihak-pihak tak bertanggung jawab?

0 Komentar