“Kita perlu menjadi mitra nyata pemerintah. Bukan hanya pengamat, tapi aktor yang terlibat sejak perumusan gagasan hingga eksekusi kebijakan. Terlebih dalam situasi global seperti sekarang, alumni ITB punya tanggung jawab moral dan keilmuan untuk ikut menjaga stabilitas bangsa,” katanya
Tak hanya berbicara dalam ranah konsep, Agung membawa kisah pribadinya sebagai refleksi nyata dari kekuatan komunitas alumni. Setelah mengalami kebangkrutan pada 2014, ia mengaku ditolong oleh sesama alumni ITB. “Sejak saat itu saya berikrar untuk mewakafkan waktu dan kemampuan saya bagi almamater dan jaringan alumni,” ucapnya.
Maka sebagai alumni yang kini berkecimpung dalam industri strategis pertahanan, Agung melihat pentingnya membangun kepercayaan, tata kelola yang transparan, serta koneksi lintas sektor. “Visi besar tidak akan berarti tanpa ekosistem yang kuat dan saling percaya,” tambahnya.
Baca Juga:15 Ribu Lapangan Kerja per Tahun? Pengamat Unpad: Pemkot Bandung Perlu Libatkan IndustriSengketa Lahan SMANSA Bandung, BPN Ajukan Banding Putusan
Dalam pernyataan penutupnya, Agung mengajak seluruh alumni ITB untuk membangun masa depan bersama, bukan hanya untuk kampus, tapi untuk bangsa.
“Ini bukan tentang satu nama. Ini tentang kita semua. Alumni ITB harus hadir bukan sebagai penonton, tapi sebagai pelaku utama perubahan. Kita mulai dari hal sederhana: bersatu, percaya, lalu bergerak,” Imbuhnya.
