JABAR EKSPRES – Aktivitas vulkanik Gunung Tangkuban Parahu dalam beberapa hari terakhir menunjukkan peningkatan yang memicu kekhawatiran akan terjadinya erupsi freatik.
Melihat kondisi tersebut, para ahli pun mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana untuk melindungi masyarakat di sekitar kawasan Gunung Tangkuban Parahu.
T. Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia sekaligus peneliti di Kelompok Riset Cekungan Bandung, menyebut bahwa potensi erupsi freatik cukup besar, mengingat dua faktor utama saat ini saling berkaitan.
Baca Juga:Berkas Penyidikan Dinyatakan Lengkap, Tersangka Kasus Pelecehan Seksual Pasien di RSHS Bandung Segera Dilimpahkan ke Kejati! Bupati Bandung Dukung Usulan Sekolah Masuk Jam 6, Tunggu Arahan Menteri Pendidikan
“Pertama, intensitas hujan tinggi telah menyebabkan akumulasi air tanah di tubuh gunung. Kedua, adanya panas dari dapur magma yang bersentuhan dengan air tanah bisa memicu pembentukan uap bertekanan tinggi,” ujar Bachtiar saat dikonfirmasi, Senin (9/6).
Ia menjelaskan, jika uap panas tidak tersalurkan dengan baik, tekanan yang terbentuk dapat menyebabkan letusan freatik.
“Letusan ini berbeda dengan erupsi magmatik karena bisa terjadi tanpa didahului gempa besar, sehingga lebih sulit diprediksi,” tambahnya.
Mitigasi dan Edukasi Masyarakat Diperlukan
Bachtiar menekankan pentingnya kesiapsiagaan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk menghadapi persoalan itu. Salah satu langkah mendesak yakni memberikan edukasi praktis dan mudah dipahami kepada masyarakat mengenai potensi bahaya dan prosedur evakuasi saat letusan terjadi.
Selain edukasi, lanjut dia, penetapan titik-titik lokasi pengungsian yang aman harus dilakukan sejak dini.
“Kesiapsiagaan mencakup personel, logistik, layanan kesehatan, dan kebutuhan dasar seperti air bersih. Bila tidak terjadi letusan pun, sumber daya ini tetap bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain,” ujarnya.
Keselamatan Prioritas Utama
Lebih lanjut, Bachtiar menegaskan pentingnya menyeimbangkan aspek keselamatan dan keberlangsungan ekonomi. Jika status gunung ditingkatkan menjadi berbahaya, semua aktivitas di zona terdampak seperti wisata, pertanian, dan peternakan harus dihentikan.
Baca Juga:Meski Foundernya Dipanggil Polisi, Gerakan Cimahi Muncul Tak Goyah!Terekam CCTV, Pelaku Curanmor Gondol Sepeda Motor Ninja SS di Wilayah Batununggal!
“Ketika otoritas menyatakan suatu kawasan berbahaya, tidak boleh ada kompromi. Keselamatan warga adalah prioritas mutlak,” tegasnya.
Ia juga mengusulkan pembangunan kandang komunal di sekitar lokasi pengungsian untuk menampung ternak warga. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah warga kembali ke zona rawan hanya untuk memeriksa hewan ternaknya.
Pendekatan Sosial dan Ekonomi dalam Mitigasi
