JABAR EKSPRES — Pameran seni Synthetic Imaging yang berada di ruang alternatif Abraham & Smith HQ, menampilkan hasil eksplorasi visual para seniman terhadap kecerdasan buatan (AI). Hal ini sebagai kelanjutan dari lokakarya yang digelar pada Desember 2024 lalu.
Kurator pameran, Meilin Tanuwijaya menyebut, Synthetic Imaging sebagai bentuk perayaan terhadap pertemuan antara manusia dan mesin dalam proses penciptaan artistik.
“Ini tidak sekadar memperkenalkan AI sebagai alat bantu visual, tapi menempatkannya sebagai mitra dalam membangun narasi dan dunia baru,” kata Meilin di Bandung, Sabtu (24/5).
Baca Juga:Sambut Pemilihan Ketua Baru, Ngatiyana Dorong KNPI Cimahi Jadi Motor PembangunanArdami Aesthetic Clinic Hadir di Majalaya: Klinik Kecantikan Paling Terpercaya dan Terlengkap di Kab Bandung
Melalui eksplorasi alat seperti DALL·E, Bing Image Creator, hingga Tengr.ai, para peserta lokakarya diajak menciptakan prompt sebagai puisi visual yang melampaui batas-batas imajinasi.
Dia menjelaskan, hasilnya adalah karya-karya dengan estetika digital yang memantik refleksi atas identitas, spiritualitas, absurditas, dan masa depan.
Sementara itu, Ryan Aprizal, salah satu seniman peserta pameran, mengungkapkan bahwa AI telah memberi kontribusi signifikan dalam proses kreatifnya.
“Karya pribadi saya membahas kehadiran kecerdasan buatan saat ini yang berdampingan dengan kita dan memberikan banyak kontribusi untuk saya sebagai perupa dalam pengkaryaan,” ujarnya.
Meski demikian, Ryan mengaku belum sepenuhnya mengadopsi estetika visual khas AI dalam karyanya. “Saya cenderung lebih suka eksplorasi warna yang rencananya akan saya coba aplikasikan pada pengkaryaan berikutnya dalam membuat lukisan,” akunya.
Sejumlah karya di pameran ini menyajikan pendekatan yang variatif—dari hiperrealisme digital hingga simbolisme absurd. Salah satu karya menampilkan figur pria dalam balutan jaket militer pop bersama anak kecil dan anjing beagle dalam lanskap posterik.
Di sisi lain, ada patung Buddha logam dalam ornamen digital simetris yang menyeret pengunjung ke dalam spiritualitas dingin dan nyaris steril.
Baca Juga:Ajak Pemkot Bandung untuk Tingkatkan Pengguna Sepeda, Komunitas Bike to Work siap Kolaborasi dengan PemerintahJembatan Apung Cijeruk Ambruk, Tidak Ada Korban Jiwa
Beberapa seniman juga mengeksplorasi pendekatan lintas media, seperti lukisan kanvas dari sketsa AI, foto polaroid artifisial, hingga kalender sejarah alternatif kota Bandung yang sepenuhnya disusun melalui prompt visual.
Bahkan, sebuah karya wheat paste di dinding luar ruang pamer menciptakan ilusi ruang palsu yang menipu persepsi spasial. “Pameran ini adalah jeda yang menyenangkan sekaligus reflektif di tengah banjir citra digital hari ini,” ujar Meilin.
