Fenomena Grup Inses di Media Sosial: Psikolog Ingatkan Bahaya Paparan Konten Menyimpang pada Kesehatan Mental

Fenomena Grup Inses di Media Sosial: Psikolog Ingatkan Bahaya Paparan Konten Seksual Menyimpang pada Kesehatan Mental
Fenomena Grup Inses di Media Sosial: Psikolog Ingatkan Bahaya Paparan Konten Seksual Menyimpang pada Kesehatan Mental
0 Komentar

**Mekanisme Pertahanan Psikologis Bisa Rusak**

Normalnya, individu memiliki mekanisme psikologis dan nilai-nilai sosial yang mencegah ketertarikan seksual terhadap keluarga sendiri. Namun, menurut Direktur PT Martasandy Psychology Indonesia, Billy Martasandy, Ph.D, ketika individu tumbuh dalam lingkungan tidak sehat dan terus terpapar konten menyimpang, mekanisme ini bisa rusak atau terdistorsi.

“Saat nilai dan norma tidak terbentuk dengan kokoh sejak dini, dan paparan negatif terus masuk tanpa filter, maka penyimpangan pun bisa berkembang. Ini bukan hanya soal seksualitas, tapi juga tentang kesehatan mental secara menyeluruh,” tambahnya.

**Grup Terbuka, Risiko Meluas**

Yang paling mengkhawatirkan, banyak dari grup-grup ini bersifat terbuka atau hanya memiliki filter keanggotaan minimal. Artinya, anak-anak di bawah umur pun bisa dengan mudah tergabung dan terpapar konten berbahaya tersebut.

Baca Juga:Jamin Keamanan Wilayah Jawa Barat, Kapolda : Kami akan Sikat Premanisme!Uang Lenyap Harapan Pupus: Puluhan Nasabah Tertipu Rp7.4 M, Tuntut Keadilan dari BMT Miftahussalam!

Beberapa grup bahkan menyajikan cerita-cerita erotis yang menggambarkan hubungan antaranggota keluarga, seperti ayah dengan anak, atau kakak dengan adik, dalam narasi yang ‘menggoda’. Ini sangat berbahaya karena dapat menstimulasi imajinasi seksual pembaca muda dan menyesatkan pemahaman mereka tentang seksualitas dan moralitas.

**Pesan untuk Generasi Muda: Jagalah Pikiran dan Hatimu**

Dirinya juga menekankan pentingnya membangun kesadaran sejak dini, terutama di kalangan generasi muda, mengenai pentingnya menjaga pikiran dan hati dari paparan konten menyimpang. Ia menekankan bahwa seksualitas adalah bagian dari kehidupan manusia, tetapi harus dijalani dengan tanggung jawab, nilai, dan kesadaran yang benar.

“Jangan biarkan rasa penasaran membawamu ke jalan yang salah. Rasa ingin tahu itu wajar, tapi pastikan kamu mendapatkan informasi dari sumber yang benar. Edukasi seksual yang sehat penting untuk menghindari penyimpangan dan membangun relasi yang sehat di masa depan,” pungkasnya.

**Peran Keluarga, Sekolah, dan Platform Digital**

Billy Martasandy menyerukan kerja sama antara keluarga, sekolah, dan platform digital untuk membendung fenomena ini. Orang tua perlu lebih terbuka dalam mendiskusikan seksualitas dengan anak, sekolah harus memberikan edukasi seksual yang tepat, dan platform digital seperti Facebook diharapkan meningkatkan pengawasan serta menghapus grup-grup menyimpang dengan lebih tegas.

0 Komentar