Kecanduan gadget juga berdampak pada dinamika keluarga. Anak-anak yang sudah terikat kuat pada gawainya sering kali menolak untuk terlibat dalam tanggung jawab rumah tangga.
Lebih lanjut, Yukie menuturkan, bahkan korban enggan menolak komunikasi dengan keluarga. Hal ini memicu isolasi sosial dan konflik yang makin tajam di lingkungan rumah.
“Ketika diminta membantu atau berinteraksi, mereka sering menolak dengan alasan sibuk, padahal yang dilakukan hanyalah terus berada di kamar dengan gadget-nya,” jelas Yukie.
Baca Juga:Usai Santap Menu Program MBG, Puluhan Siswa Bosowa Bina Insani Bogor Diduga Keracunan Massal!Tutup Akses! Pemkot Bandung Larang Buang Sampah ke TPS Pasar Caringin
Ia menekankan, depresi dan gangguan emosional pada anak tidak muncul tiba-tiba. Gadget mungkin bukan penyebab utama, namun sering kali menjadi bagian dari lingkaran masalah, terutama saat anak kehilangan keterampilan hidup, tidak bisa mengelola stres, dan tidak memiliki ruang aman untuk bercerita.
“Solusinya bukan melarang gadget, tetapi membangun kembali keterampilan sosial, komunikasi, dan ketahanan mental anak-anak kita,” imbuhnya.
Kecanduan gadget bukan sekadar persoalan pola asuh, tetapi telah menjadi problem kesehatan masyarakat yang membutuhkan intervensi terstruktur dari keluarga, sekolah, hingga pembuat kebijakan.
“Mereka perlu dibekali kemampuan untuk memahami, berpikir, dan merespons tantangan hidup bukan hanya dengan klik dan scroll, tapi dengan keberanian dan kepekaan,” tutup Yukie. (Mong)
