Diketahui sebelumnya, terdapat tiga aliran sungai yang tercemar limbah hewan tertnak yakni Sungai Cigulung dari Lembang Raya, Sungai Cikawari dari Desa Wangunharja dan Desa Cibodas dan Sungai Cikapundung dari Desa Suntenjaya dan Cibodas.
Semua aliran sungai itu bermuara di Kolam Tando Harian Dago Pakar. Dari sana, air sungai yang tercemar itu dimanfaatkan untuk pemenuhan air bersih Kota Bandung dan sumber listrik.
“Mulai dari Maribaya (Lembang) kita telusur pencemarannya dan ternyata ketika kita melihat itu ada tiga sungai yang tercemar jadi mulai sungai Cigulung, Sungai Cikawari dan Sungai Cikapundung,” kata Kepala Bidang Produksi Peternakan pada Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Siti Rohani di lokasi.
Baca Juga:Subsidi Motor Listrik Berakhir, Industri Hadapi Tantangan dan Tuntut Arah Jelas dari PemerintahPersaingan Kopi Good Day DBL Camp 2025 Makin Memanas, dari Ratusan Disaring Jadi Top 24 Campers
Siti menjelaskan, pencemaran ini berasal dari limbah kotoran hewan yang dibuang para peternak dari kawasan Lembang. Hal itu dikarenakan masih banyak peternak di Bandung Barat yang belum memiliki tempat pengolahan kotoran hewan ternak.
Ada sejumlah solusi yang disiapkan stakeholder terkait di lingkungan Pemprov Jawa Barat, Pemkab Bandung Barat dan instansi terkait lainnya untuk menangani masalah pengolahan limbah hewan ternak ini.
Seperti pembuatan kolam tando di hulu seperti di Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang hingga pemanfaatan kotoran hewan ternak diolah menjadi kompos, biogas, pupuk organik dan sebagainya.
“Diharapkan kita bisa membuat kolam tando di Suntenjaya, itu milik lahan Perhutani. Jadi nanti kita akan berkolaborasi lagi dengan instansi yang terkait. Semuanya harus terlibat untuk menyelesaikan masalah pencemaran limbah kotoran hewan,” ujar Siti. (Wit)
