Ia melanjutkan, bahkan isu ini sampai menyeret nama pejabat tinggi baik orang nomor 1 di Kota Bandung hingga Jawa Barat. Gubernur dan Wali Kota dikabarkan sempat dimarahi oleh pihak-pihak tertentu karena dianggap tidak mampu mengelola dinamika sosial tersebut.
Selain itu, dari yang sebelumnya konflik alih fungsi lahan, isu pun melebar menjadi perdebatan antar gaya kepemimpinan, kebijakan tata ruang, hingga kepemimpinan politik lokal.
Namun, menurutnya yang kerap terlupakan dalam hiruk-pikuk tersebut adalah nasib warga kecil yang tinggal di tengah pusaran. Mereka yang rumahnya menjadi medan tarik ulur kepentingan, mereka yang setiap harinya harus hidup dalam bayang-bayang konflik yang tak mereka mulai.
Baca Juga:Bupati Herdiat Sidak RSUD Ciamis, Tegaskan Pentingnya Pelayanan Kesehatan Berbasis Empati dan KedisiplinanKemenHAM Pastikan Hak Priguna Sebagai Tersangka Rudapaksa Tetap Terpenuhi!
Ia pun menyampaikan cerita disini adalah pengingat, dalam setiap konflik sosial, ada lebih dari sekadar pihak yang menang dan kalah. Ada manusia, ada perasaan, ada hak untuk didengar secara utuh.
“Dan tugas kita sebagai masyarakat, termasuk media dan warganet adalah tidak hanya mencari kebenaran, tapi juga mendengarkan semua sisi cerita,” pungkasnya. (Dam)
