Kebijakan yang terburu-buru tanpa kajian mendalam, dinilai sering kali menimbulkan gejolak di masyarakat dan menambah tekanan bagi pemerintah daerah.
Dorongan dari Bawah
Di sisi lain, Pemerintah Jawa Barat juga menghadapi dorongan kuat dari masyarakat yang memiliki ekspektasi tinggi terhadap kepemimpinan baru.
Gubernur dan wakil gubernur yang baru dilantik membawa suara jutaan rakyat yang berharap adanya perubahan nyata dalam berbagai aspek kehidupan.
Baca Juga:Mahasiswa Dipukuli Polisi Saat Demo Indonesia Gelap di Surabaya, Terduga Pelaku Langsung Diamankan ProvamPasangan Wali Kota Banjar Siap Realisasikan Janji 100 Hari Kerja
“Dalam tiga tahun terakhir, Jawa Barat mengalami ledakan jumlah penduduk. Tahun 2023 sebanyak 49,8 juta jiwa, 2024 sebanyak 50.3 juta jiwa dan 2025 sebanyak 51,1 juta jiwa,” jelas Maulana.
Pertama, masyarakat masih membutuhkan pendidikan sebagai sarana pengembangan sumber daya manusia. Badan Pusat Statistik Jawa Barat mencatat, rata-rata lama sekolah masyarakat yaitu 9,24 tahun.
Artinya, mayoritas masyarakat Jawa Barat mengenyam pendidikan hanya sampai tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Angka tersebut memang cukup tinggi jika dibandingkan dalam tren tiga tahun terakhir, yakni tahun 2021 di angka 8,98 tahun, tahun 2022 di angka 9,07 tahun, tahun 2023 di angka 9,12 tahun. Meskipun dari tahun ke tahun mengalami kenaikan, tapi masih berjalan lambat.
“Kedua, masyarakat masih sangat butuh lapangan pekerjaan untuk memenuhi kehidupannya,” papar Maulana.
Diketahui, Jawa Barat mencatatkan angka pengangguran terbuka tertinggi di Indonesia, dengan total 1.888.287 jiwa, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan provinsi lain seperti Jawa Timur (1.165.587 jiwa) dan Jawa Tengah (1.080.260 jiwa). Jawa Barat juga memiliki angka pengangguran putus asa tertinggi di Indonesia, yakni sebanyak 280.567 jiwa.
“Ketiga, masyarakat masih membutuhkan akses layanan kesehatan yang memadai,” lanjutnya.
Karena menurut Maulana, ketimpangan dalam layanan kesehatan masih terjadi di Jawa Barat. Tenaga medis dan fasilitas kesehatan cenderung terkonsentrasi di wilayah perkotaan, sementara daerah terpencil dan perbatasan masih mengalami keterbatasan akses layanan kesehatan.
Baca Juga:Cetak Sejarah Baru, Dedie Rachim dan Jenal Mutaqin Resmi BertugasBI Layani Penukaran Uang Baru Per 3 Maret 2025, Kini Per Orang Bisa Tukar Rp4 Juta
“Sepanjang tahun 2024, pembangunan rumah sakit di Jawa Barat masih terfokus di kota-kota besar, sementara wilayah seperti Priangan Timur belum mendapatkan perhatian yang memadai,” imbuhnya.
