Sejumlah pengendara melirik sekilas, beberapa pejalan kaki berhenti membaca, lalu berjalan lagi. Di tengah hiruk-pikuk kendaraan yang berseliweran, aksi Wanggi dan poster-poster itu tetap berdiri teguh, menyampaikan pesan yang tak bisa diabaikan begitu saja.
Sebab, dalam kesunyian pantomim, ada jeritan yang lebih lantang dari sekadar suara.
“Manusia sering merusak hutan dan habitatnya, dialihfungsikan dan dipelihara. Diambil anaknya dan mengalami penyiksaan. Kami menyerukan nol penyiksaan, kekejaman dan penindasan terhadap primata jenis apapun termasuk monyet ekor panjang dan beruk,” pungkasnya.
