JABAR EKSPRES – Wakil Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat Siti Muntamah mendorong penuntasan masalah stunting di Jawa Barat. Walaupun secara angka, prevalensi stunting sudah menurun.
Stunting adalah gangguan tumbuh kembang anak. Di Jawa Barat, prevalensi stunting pada 2024 mencatatkan penurunan signifikan. Yakni bisa tembus 15,9 persen, padahal di 2023 masih di angka 21,7 persen.
Berdasarkan opendata.jabarprov.go.id, angka prevalensi stunting di tingkat kota kabupaten di Jawa Barat juga masih variatif. Posisi teratas atau yang masih tinggi adalah Kabupaten Bandung Barat dengan 30,8 persen, kemudian Kabupaten Bandung 24,1 persen, Kota Bandung 22,8 persen, Kabupaten Kuningan 22,7 persen, Kota Cimahi 22,3 persen.
Baca Juga:Wakil Ketua Komisi V Umi Oded Dorong Penuntasan Masalah Kemiskinan Jawa BaratRamadan Istimewa, Legislator Umi Oded Ajak Tak Hanya Tingkatkan Ibadah tapi Juga Kepedulian
Sementara beberapa daerah yang prevalensinya rendah di antaranya, Kabupaten Cianjur dengan 7,2 persen, Kabupaten Indramayu 9,8 persen, Kota Bekasi 11,7 persen.
Siti Muntamah berpendapat, angka prevalensi stunting di Jawa Barat memang turun. Hal itu merupakan kabar positif, namun bukan berarti kerja penuntasan stunting selesai.
Dengan prevalensi stunting 15,9 persen berarti masih ada anak yang berstatus stunting. “Jangan hanya dilihat 15 persennya, itu ada berapa anak se Jawa Barat. Masih tinggi, perlu dituntaskan,” terang perempuan yang akrab disapa Umi Oded itu, Sabtu (21/2).
Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu melanjutkan, “Pemerintah Daerah perlu melakukan langkah komperhensif untuk menuntaskan persoalan stunting. Pemprov perlu membersamai tumbuh kembang anak, termasuk persoalan keluarga,” terangnya.
Penuntasan stunting butuh kolaborasi bersama. Karena akar masalah stunting bisa beragam. Misalnya karena akses air bersih yang biasa dikonsumsi anak, hingga persoalan akses makanan bergizi.
Siti Muntamah berharap masalah stunting bisa dituntaskan. Sehingga anak-anak Jawa Barat bisa tumbuh kembang dengan baik.(son)
