Meskipun telah dilakukan berbagai upaya seperti penerapan sistem ganjil-genap, penutupan jalan, dan penyediaan bus dari Blok M ke Wisata Taman Safari Indonesia, namun volume kendaraan pribadi yang tinggi masih menjadi masalah utama yang sulit diatasi.
Melalui kegiatan FGD yang melibatkan beberapa narasumber termasuk Kasubdit Angkutan Orang BPTJ Bayu dan Pengamat Perkotaan Universitas Trisakti Yayat Supriatna ini diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret, seperti pengembangan wisata alternatif dan perbaikan infrastruktur transportasi.
“Kolaborasi lintas sektor sangat krusial. Kami berharap pemerintah daerah dan stakeholder bersinergi untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan,” ujar Ki Darmaningtyas.
Baca Juga:Adu Banteng Pengendara Motor di Soreang, 1 Meninggal dan 2 Luka-lukaRealisasi Investasi Capai Rp184 Triliun, DPMTSP Klaim Jabar akan Jadi Penggerak Perkonomian Indonesia
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat, Benny Bachtiar, menyoroti pentingnya diversifikasi destinasi wisata.
Ia juga mendorong promosi destinasi alternatif di Jawa Barat agar para wisatawan tidak hanya berkumpul di Puncak.
“Selain itu, penataan kawasan wisata utama juga harus diperhatikan agar tetap nyaman dan aman bagi pengunjung,” tutur Benny. (YUD)
