Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di KBB Meningkat Signifikan, Didominasi KDRT

Ilustrasi stop kekerasan pada perempuan dan anak. Dok istockphoto
Ilustrasi stop kekerasan pada perempuan dan anak. Dok istockphoto
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak terus terjadi di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Bahkan, tren kasusnya mengalami peningkatan signifikan setiap tahunnya.

Berdasarkan data dari Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Bandung Barat, jumlah penduduk KBB sebanyak 1,8 juta jiwa, 49 persen laki laki dan 51 persen perempuan.

Pada tahun 2017 kasus kekerasan perempuan dan anak dilaporkan ada 17 kasus, kemudian di tahun 2022 pelaporan langsung naik jadi 217 persen atau jadi 54 kasus.

Baca Juga:Kesejahteraan Guru di Cimahi jadi Sorotan di Hari Guru NasionalTetap Eksis, Wisata Alam Kawah Putih Masih jadi Tempat Favorit Wisatawan Lokal hingga Mancanegara

“Setiap tahun tren kasus kekerasan perempuan dan anak laporannya cenderung meningkat. Ini salah satunya dikarenakan masyarakat sudah mulai sadar dan berani untuk lapor,” kata Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) DP2KBP3A KBB, Rini Haryani saat dihubungi, Minggu (8/12/2024).

“Jumlah kasus pelaporan paling banyak seperti dari Kecamatan Cihampelas dan Ngamprah,” sambungnya.

Rini menyebutkan, melalui program Geprak dibuat juga posko di setiap kecamatan untuk memudahkan masyarakat mengakses atau melapor. Mereka tidak harus jauh-jauh datang ke kantor DP2KBP3A KBB, karena cukup datang ke kecamatan.

Selain itu ada juga hotline yang bisa dihubungi asalkan masyarakat pelapor menyampaikan data-data yang lengkap. Seperti siapa pelapornya, korbannya, terlapor, dan melampirkan data KTP dan KK. Nantinya akan dilakukan validasi dengan home visit untuk memastikan penanganan kasusnya.

0 Komentar