“Tapi meskipun masa panennya bisa sampai tiga kali, kan setelah panen setiap minggunya terus disuntik pupuk. Jadi perawatan brokoli ini bisa dibilang tergantung pupuk. Semakin sering bunganya semakin bagus dan masa panennya semakin cepat juga,” tandasnya.
Senada dengan Ade Fatih, Ayi (65) petani di Desa Ngamprah juga mengeluhkan hal yang sama. Ia mengaku resah menghadapi musim tanam dan meskipun saat ini ketersediaan pupuk banyak, namun harganya cukup mahal. Hal tersebut tak sebanding dengan hasil panen yang didapatkan.
Sampai panen, Ayi menggunakan pupuk ini sebanyak 50 karung. Jadi jika ditotalkan mencapai Rp750 ribu. Belum lagi harga pestisida. Tingginya bahan kimia untuk pengendalian hama juga menjadi masalah para petani di wilayah ini.
Baca Juga:Tanggapi Pembuangan Limbah Batu Bara di KBB, Bey Machmudin Sebut akan Cari PelakunyaMengaku Tak Ikut Campur Pembelian Mobil Mewah, Sandra Dewi: Itu Uang Dia, Saya Tidak Tahu!
Diakui Ayi, dirinya menggarap lahan milik orang lain dan semuanya ditanami brokoli. Total luas lahan yang digarapnya sekitar setengah hektare. Untuk biaya pupuk dan pemeliharaan Rp35 juta. Jika sedang bagus, hasil panen pertama (dua bulan) mencapai Rp50 juta jadi hanya selisih 15 juta.
“Jadi di brokoli ini lebihnya dipanen kedua. Tapi itu juga ada biaya perawatan dan dipupuk lagi. Tapi memang kalau harga lagi bagus di panen kedua itu ngantonginlah Rp30 juta,” bebernya. (Wit)
