Kemarau 2024 Berpotensi Timbulkan Bencana Kekeringan Meteorologis

Ilustrasi: Seorang pria sedang berjalan di lahan pesawahan yang tanahnya mengering saat musim kemarau, berlokasi di belakang Stadion GBLA, Kota Bandung. (Dok: Jabar Ekspres)
Ilustrasi: Seorang pria sedang berjalan di lahan pesawahan yang tanahnya mengering saat musim kemarau, berlokasi di belakang Stadion GBLA, Kota Bandung. (Dok: Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Musim kemarau masih berlangsung, ancaman bencana tergolong cukup menghantui masyarakat di berbagai daerah termasuk Provinsi Jawa Barat, seperti potensi timbulnya kekeringan meteorologis.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkap hasil analisa musim kemarau tahun ini berpotensi menimbulkan dampak kekeringan bagi beberapa daerah di Jawa Barat.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Bandung, Teguh Rahayu mengatakan, meski kemarau 2024 ini senderung normal alias tak separah tahun lalu, namun kewaspadaan serta antisipasi bencana hidrometeorologi tetap harus jadi perhatian.

Baca Juga:Tata Kelola Aset Pemkot Bandung jadi Sorotan, Pengamat: Harus DiselesaikanHadapi Musim Kemarau, DKPP Kota Bandung Klaim Stok Pangan Aman

“Sebagian wilayah Jawa Barat saat ini sedang pada puncak musim kemarau, yang berpotensi menimbulkan kekeringan meteorologis,” katanya kepada Jabar Ekspres melalui seluler, Selasa (3/9).

Rahayu atau akrab disapa Ayu menerangkan, dalam upaya mengantisipasi hal tersebut, instansi terkait dan masyarakat diimbau untuk dapat melakukan sejumlah langkah.

“Seperti melakukan langkah antisipatif pada daerah-daerah yang berpotensi mengalami curah hujan, dengan kategori rendah yang dapat memicu kekeringan dan potensi dampak lanjutan,” terangnya.

Menurutnya, perbedaan puncak kemarau 2024 ini tak serentak alias adanya perbedaan zona musim (ZOM), yang membuat suhu udara akan berbeda setiap daerah.

“Berdasarkan data analisis BMKG di Stasiun Meteorologi Kertajati, suhu maksimum di Bulan Agustus tercatat pada rentang 32.8 hingga 35.5 derajat celcius,” bebernya.

Mengingat saat ini termasuk dalam kategori kemarau basah untuk beberapa daerah, sehingga guyuran hujan terkadang dapat membasahi sedikit tanah.

Diketahui, fenomena kemarau basah ini disebabkan oleh gangguan dinamika atmosfer skala regional. Gangguan ini menyebabkan pengumpulan awan hujan yang terus meningkat di sejumlah wilayah.

Baca Juga:Remaja Hilang Terseret Arus di Pangandaran Ditemukan Meninggal DuniaWaspada Ancaman Megathrust, Begini Langkah yang Akan Dilakukan BPBD Jabar

Kendati demikian, meski hujan berpotensi turun masyarakat tetap harus berhemat air dan menggunakan air secara bijak. Selain itu, warga juga perlu waspada terhadap potensi bencana kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Oleh sebab itu, Ayu mengimbau, agar setiap instansi dan elemen masyarakat dapat mewaspadai ancaman bencana hidrometeorologi di musim kemarau tahun ini.

0 Komentar