Belum ada Riset dan Kesepakatan Para Ahli yang Buktikan Dampak Langsung BPA pada Penyakit Diabetes dan Gangguan Hormon

(Dari kiri ke kanan) Kepala Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran, Institut Teknologi Bandung (ITB), Ir. Akhmad Zainal Abidin, M.Sc. Ph.D dan Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Spesialis Metabolisme dan Endokrinologi Dr. dr. Laurentius Aswin Pramono, M.Epid, SpPD-KEMD, saat memberikan pemaparan dalam Konferensi Pers Hasil Riset Uji Keamanan dan Kualitas Air Minum dalam Kemasan (AMDK) di Bandung, Jawa Barat — hari ini, Senin, 26 Agustus 2024 di Bandung, Jawa Barat.
(Dari kiri ke kanan) Kepala Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran, Institut Teknologi Bandung (ITB), Ir. Akhmad Zainal Abidin, M.Sc. Ph.D dan Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Spesialis Metabolisme dan Endokrinologi Dr. dr. Laurentius Aswin Pramono, M.Epid, SpPD-KEMD, saat memberikan pemaparan dalam Konferensi Pers Hasil Riset Uji Keamanan dan Kualitas Air Minum dalam Kemasan (AMDK) di Bandung, Jawa Barat — hari ini, Senin, 26 Agustus 2024 di Bandung, Jawa Barat.
0 Komentar

Hasil penelitian menunjukkan semua sampel air galon yang diuji terbukti aman dikonsumsi, sesuai dengan standar dan regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah.

Ir. Akhmad Zainal Abidin, M.Sc. Ph.D, Kepala Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran ITB, menegaskan bahwa semua sampel air minum yang diuji bebas kandungan zat berbahaya, salah satunya yaitu BPA. “Dari penelitian yang kami lakukan, kami tidak mendeteksi (non-detected/ND) BPA di semua sampel AMDK yang diuji. Artinya, kadar BPA masih sangat aman, berada jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan otoritas keamanan pangan nasional dan internasional, seperti Standar Nasional Indonesia (SNI), BPOM, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),” kata Zainal.

Paparan BPA dari penggunaan galon air minum yang dikonsumsi sehari-hari masih berada dalam batas aman. Batas aman BPA menurut Kajian Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) adalah 4 mikrogram per kilogram berat badan per hari, sedangkan penelitian terbaru dari Kelompok Studi Polimer ITB menunjukkan paparan BPA tidak terdeteksi dalam sampel air kemasan galon.

Baca Juga:Pakar Polimer ITB Buktikan Air Minum Galon Berbahan Polikarbonat Tidak Terdeteksi Kontaminasi BPABey Machmudin Lantik Hening Widiatmoko sebagai Pustakawan Ahli Utama

Sementara penelitian dilakukan dengan menggunakan alat ukur canggih yaitu High Performance Liquid Chromatography (HPLC) yang dikenal akan ketepatan akurasinya, dengan nilai Limit of Detection (LoD) sebesar 0,0099 mikrogram per liter (mcg/L), jauh lebih kecil dari batas aman BPA yang ditetapkan regulasi.

“Sebagai analogi, BPA dalam air akan berbahaya jika kita mengonsumsi 10.000 liter air atau setara lebih dari 500 galon air minum (19 liter) dalam sekali minum. Suatu yang mustahil. Oleh karena itu, konsumen tidak perlu khawatir untuk mengonsumsi air dari galon setiap hari,” tambah dr. Aswin.

Sejalan dengan dr. Aswin, Dr. Zainal memaparkan penelitian ini merupakan bagian dari upaya mengedukasi masyarakat mengenai kualitas dan keamanan AMDK yang berbasis pada serangkaian uji ilmiah yang ketat, tepercaya dan independen. “Apapun jenisnya, semua galon yang beredar dipasaran harus diperlakukan dengan baik dan benar, termasuk memastikan galon tidak terpapar suhu ekstrem, yaitu di atas 150 derajat Celcius. Dengan edukasi yang tepat, masyarakat tidak perlu khawatir mengkonsumsi air kemasan galon,” tutup Dr. Zainal.

0 Komentar