Laka Maut Subang Jangan Sampai Terulang, Sekolah dan Disdik Tak Boleh Sembarang Lakukan Study Tour

Ist. Kondisi bangkai bus dan motor yang terlibat kecelakaan di Desa Palasari, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (11/5). (Antara)
Ist. Kondisi bangkai bus dan motor yang terlibat kecelakaan di Desa Palasari, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (11/5). (Antara)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Peristiwa kecelakaan lalu lintas bus yang membawa rombongan pelajar sekolah study tour, yang terjadi di wilayah Desa Palasari, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang menyita banyak perhatian.

Pasalnya, kecelakaan maut bus yang terguling akibat diduga rem blong tersebut memakan sebanyak 11 korban meninggal dunia.

Anggota DPRD Kabupaten Bandung Komisi D, Hilman Farouq mengatakan, tidak menolak jika sekolah mengadakan kegiatan study tour.

Baca Juga:Bey Machmudin Klaim Pemberangkatan Calon Jamaah Haji di Jabar Berjalan LancarAngkat Lagi Bandung Jadi Kota Budaya Populer, Mahasiswa Universitas Telkom Gelar ‘Serenade Lenscape’

“Pada dasarnya boleh-boleh saja mengadakan study tour, asalkan mengutamakan keselamatan,” katanya kepada Jabar Ekspres, Jumat (17/5).

Kendati demikian, Hilman menyoroti pihak sekolah khususnya bagi yang berdiri di Kabupaten Bandung, untuk tidak melakukan pemaksaan kepada pelajar.

“Untuk sekolah saya rasa jangan mewajibkan anak-anak (pelajar) untuk mengikuti study tour, karena tidak sedikit orang tua yang kurang mampu,” bebernya.

“Jangan sampai karena wajib, anak ingin ikut, orangtua memaksakan pembiayaan study tour. Kegiatan boleh tapi jangan ada paksaan, agar tidak menjadi beban kepada orangtua siswa,” tukas Hilman.

Hal senada diucapkan Bupati Bandung, Dadang Supriatna. Menurutnya, study tour yang digelar ke luar daerah bisa memberikan dampak yang positif.

“Biasanya kalau study tour itu positif pasti ada efek positifnya, setelah pulang paling tidak membawa pengetahuan baru,” ucapnya.

Namun, Dadang menilai, sekolah harus bisa lebih memperhatikan aspek keamanan, terlebih dalam kontek Sumber Daya Manusia (SDM), termasuk menggunakan kendaraan yang sudah profesional.

Baca Juga:Jelang Laga Persib vs Bali United di Semifinal Liga 1, Polisi Turunkan 1500 PersonelDilantik Jadi Pj Bupati Cirebon, Wahyu Mijaya Ngaku Tetap Monitoring PPDB 2024 di Jabar

Mengingat, kejadian kecelakaan kerap terjadi karena kendaraan yang membawa para pelajar biasanya tidak layak jalan.

“Tapi tetap peningkatan kualitas dalam konteks SDM juga pemahaman dan pendalaman tentunya ini boleh-boleh saja akan tetapi tetap mengutamakan keselamatan,” tutup Dadang.

Sementara itu, Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno memaparkan, jika melihat pada peristiwa laka maut Subang, maka perlu jadi perhatian Dinas Pendidikan (Disdik) di berbagai wilayah.

0 Komentar