Harga Beras Terus Naik, Pembuat Lontong Terpaksa Kecilkan Ukuran

Pedagang beras di Pasar Atas Kota Cimahi menyatakan kekhawatiran atas harga beras yang berdampak pada penurunan jumlah pembeli dan ketersediaan stok barang yang terbatas.
Pedagang beras di Pasar Atas Kota Cimahi menyatakan kekhawatiran atas harga beras yang berdampak pada penurunan jumlah pembeli dan ketersediaan stok barang yang terbatas. (Foto: Firman Satria/Jabar Ekspres)
0 Komentar

BANDUNG, JABAR EKSPRES – Harga beras di pasaran kian hari terus merangkak naik, tak hanya dirasakan ibu rumah tangga. Tapi, pedagang pun turut mengalami dampak melambungnya kebutuhan pokok tersebut.

Seperti pedagang lontong, mengingat bahan baku utamanya adalah beras, maka sebagai bentuk protes atas kenaikan harga yang terus meroket, sejumlah produsen melakukan penyesuaian ukuran.

Protes tersebut salah satunya dilakukan oleh perajin lontong yang dikelola Iyen (60) di Kampung Pasitukul RT05 RW04, Desa Cileunyi Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung.

Baca Juga:Mayat Perempuan Terikat Tali di Banjar Sempat Minta Uang untuk Pergi Liburan ke Puncak BogorTERUNGKAP! Mayat Perempuan Terikat Tali di Banjar Ternyata Warga Jakarta Timur

Dia terpaksa memperkecil ukuran lontong, sebab harga beras yang terus-menerus mengalami perubahan harga alias kian melambung.

“Ya umumnya perajin lontong di Cileunyi dan Jatinangor dampak beras mahal memperkecil ukuran lontong. Yang tadinya panjang lontong 15 cm jadi 12 cm. Begitu pula ukurannya,” kata Iyen, Selasa (27/2).

Dia mengaku, tidak menginginkan ukuran lontong diperkecil, tapi karena kondisi harga kebutuhan pokok terus mengalami kenaikan, sehingga perubahan ukuran tak bisa dihindari.

“Dari dulu waktu harganya normal (murah) sampai mahal harga 1 lontong Rp1.000, ukuran enggak dirubah. Hanya, saat ini ukuran lontong diperkecil,” ujar Iyen.

“Tidak tahu berapa harga lontong yang berjejer di warung-warung Jalan Raya Bandung-Garut (kawasan Cileunyi-Cipacing). Berharap harga beras kembali normal biar ukuran lontong bisa normal lagi,” tukasnya.

Sementara itu, Entis (50) salah seorang pekerja di pabrik/produsen lontong milik Iyen, turut menyampaikan keluhannya terkait kenaikan harga beras.

“Saya juga sering jualan keliling lontong dan tahu dengan menggunakan ‘dungkul’, umumnya perajin lontong enggak mau menaikan harga meski beras mahal,” bebernya.

Baca Juga:Banjir Landa Pasar Lembang, Macet Mengular dan Aktivitas Warga TergangguWOW! Sekitar 25 Hektar Lahan di KBU Telah Beralih Fungsi

Ketika ditanya apakah selain memperkecil ukuran lontong para perajin saat mencampur beras atau menggunakan beras murah.

“Umumnya perajin lontong enggan mencampur beras atau menggunakan beras murah kasih konsumen (pembali). Caranya, ya memperkecil ukuran lontong,” tutup Entis.

Diketahui, kenaikan harga beras yang terus melambung tak dipungkuri sangat berdampak signifikan pada pembuat lontong.

0 Komentar