Pasalnya, beras merupakan bahan baku utama produk lontong. Akhirnya, sebagai respons, sejumlah produsen lontong melakukan penyesuaian dengan memperkecil ukuran, baik panjang atau pun besar dan enggan untuk menaikan harga.
Dampak tingginya harga salah satu kebutuhan pokok ini dirasakan nyata oleh pemilik Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Terlebih, pedagang yang memproduksi lontong menggunakan beras sebagai bahan baku sehingga harus putar otak.
Salah satu caranya dengan dengan memperkecil dan mempendek ukuran lontong. Panjang lontong yang biasanya rata-rata 15 sentimeter, kini jadi 12 sentimeter, begitu pula ukuran diameternya.
Baca Juga:Mayat Perempuan Terikat Tali di Banjar Sempat Minta Uang untuk Pergi Liburan ke Puncak BogorTERUNGKAP! Mayat Perempuan Terikat Tali di Banjar Ternyata Warga Jakarta Timur
Perubahan tersebut tak hanya dilakukan oleh perajin lontong di Kecamatam Cileunyi, Kabupaten Bandung. Tetapi juga perajin longtong di Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang sejak harga beras melambung di angka Rp17.000 hingga Rp18.000, harus memutar otak.
Hal itu disampaikan Titin (35), penjual lontong dan tahu di Jalan Raya Bandung, tepatnya di Pasirtukul RT 02/04, Desa Cileunyi Wetan, membenarkan bahwa lontong yang dijual priduk Ny. Iyen di pabriknya sekarang ukurannya diperpendek dan diperkecil.
“Meski ukuran lontong diperkecil, tapi sejak harga beras normal hingga saat ini mahal, satu lontong tetap dijual Rp2.000 atau tiga lontong Rp5.000,” imbuhnya.
“Alhamdulillah pembeli normal meski tahu jika ukuran lontong kini deperkecil karena mungkin mereka juga mengerti kalau beras lagi mahal,” pungkas Titin. (Bas)
