JABAR EKSPRES – Minyak rem pada sepeda motor memiliki peran yang sangat penting dalam sistem pengereman. Meski memiliki fungsi penting dalam rangkaian sepeda motor dan keselamatan pengguna, minyak rem jadi salah satu komponen sepeda motor yang sering terabaikan.
Saat tuas master rem beroperasi, minyak rem akan mendorong piston di kaliper rem untuk menekan kampas rem agar dapat menjepit cakram sesuai dengan tekanan yang dihasilkan saat tuas master rem ditarik. Selain itu, minyak rem juga berperan dalam mengurangi panas yang muncul akibat gesekan logam pada komponen sistem pengereman, yaitu antara kampas rem dan cakram.
Minyak rem memiliki umur pakai yang panjang, sehingga tidak perlu diganti setiap kali dilakukan servis. Namun, setelah digunakan sekitar 24.000 km atau selama 2 tahun, minyak rem harus diganti untuk memastikan fungsi pengereman sepeda motor tetap optimal. Informasi ini dapat ditemukan dalam buku pedoman pemilik, pada bagian tabel perawatan berkala.
Baca Juga:Rabbit Forest by Orchid Forest Cikole, Wisata Edukasi di Lembang Bisa Swafoto Hingga Beri Makan HewanBisa untuk Ide Jualan! Resep Pentol Ayam Kriwil Anti Gagal
Selain dilakukan setiap 24.000 km, penggantian minyak rem juga perlu dilakukan ketika kondisi minyak tersebut sudah tidak layak pakai. Ciri-ciri ini dapat terlihat dari warnanya yang mulai keruh dan kotor, serta volume minyak yang berkurang.
Minyak rem yang dalam kondisi buruk dapat menyebabkan kerusakan pada seal karet di master rem, seal di kaliper rem, dan saluran minyak rem yang kemungkinan berkarat. Dampaknya, cairan rem dapat bocor, mengakibatkan fungsi pengereman menjadi berkurang dan berpotensi membuat rem tidak berfungsi dengan baik (blong). Selain itu, kondisi ini juga dapat mengganggu penampilan sepeda motor karena munculnya karat atau kotoran yang menempel pada bagian yang terkena tetesan atau rembesan minyak rem yang bocor.
