“Setelah itu, militer Belanda menyerahkan Rumah Sakit Dustira ke TNI yang diwakili Letkol Dokter Kornel Singawinata sebagai Kepala Rumah Sakit Dustira yang kala itu bernama Territorium III,” papar Wahyudin.
Setelah berlalu beberapa saat, Panglima Territorium III/Siliwangi, Kolonel Kawilarang, dengan penuh keberanian menamai rumah sakit itu dengan sebutan megah, Rumah Sakit Dustira. Keputusan gemilang ini diumumkan dalam momentum gemerlap perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Territorium III/Siliwangi yang ke-10 pada tanggal 19 Mei 1956.
“Pemberian nama Rumah Sakit Dustira sendiri merupakan bentuk penghormatan TNI terhadap jasa-jasa Mayor dr. Dustira Prawiraamidjaya yang merupakan dokter tentara dari Resimen IX Divisi Siliwangi,” jelas Wahyudin.
Baca Juga:Mengintip Rumah Bersejarah di Cimahi, Pernah Disambangi SoekarnoKahforward Goes to Campus, Dukung Generasi Muda Ciptakan Solusi Inovatif
“Sebab, dia telah menunjukkan itikad dan patriotisme dalam membantu para pejuang di medan peperangan,” tambahnya.
Mayor Dustira telah memberikan kontribusi yang fenomenal dengan memberikan bantuan yang sangat signifikan kepada para korban peperangan, terutama di wilayah atau front Padalarang.
“Oleh karenanya, Rumah Sakit Dustira hingga saat ini dikenal sebagai rumah sakit kebanggaan prajurit di wilayah Kodam III Siliwangi,” ungkap Wahyudin.
Tetap menjelma sebagai pusat kesehatan utama, tempat ini tidak hanya menjadi rujukan terkemuka dalam bidang kesehatan, melainkan juga mempertahankan perannya sebagai lighthouse untuk menyajikan pelayanan kesehatan yang tak tertandingi dalam upaya penyembuhan dan pemulihan.
Bukan hanya personel militer yang mendominasi, sekarang Rumah Sakit Dustira merawat berbagai kalangan pasien dengan ragam latar belakang, menciptakan keberagaman layanan kesehatan yang menakjubkan di tengah masyarakat. (Mong)
