“Rasanya justru terbelah kembali. Dalam artian ada pemahaman atau sudut pandang, itu bisa berubah. Mungkin bisa beda. Kayak dulu menyikapi penyesalan seperti apa? Jadi memperkaya sudut pandang dan tarikannya ke dalam. Seperti bercermin,” tandasnya.
“Merasakan keterhubungan. Lebih jujur. Bukan gaya-gayaan ingin dianggap sastrawi. Tidak soal itu. Justru soal berbagi. Itu yang disajikan di meja. Maka cenderung tidak mengkritik sastra contohnya. Tidak bicara di ranah bagus atau tidaknya. Lebih ke menikmati,” sambung Dikdik.
Sementara, Razaka Ghifari (27), pemuda yang memiliki keseharian membuka usaha bisnis sewa alat outdoor dan alat pentas, memandang Sore Menulis dengan tanpa ekspektasi apa pun. Baginya tidak lebih seperti bentuk ruang interpretasi.
Baca Juga:Jujutsu Kaisen Chapter 248: Akhirnya Sukuna Mengakui Yuji!Spoiler One Piece 1104: Pertarungan di Pulau Egghead Makin Sengit, Gorosei Saturn Kena Bogem Kuma!
“Di luar sangkaan. Saya bukan dari orang yang giat menulis. Ternyata pada akhirnya bisa ada yang diambil. Entah itu cara pandang orang yang terlibat. Unik. Positif. Yang dirasa jadi pengingat untuk menjalani kehidupan,” kata Razaka.
Komunitas atau ‘kelompok menulis bersenang-senang’ yang pertama kali dirintis oleh dua orang, M.H. Dutama dan T.I. Turmudzi, pada akhirnya terus menarik perhatian orang-orang yang nyaris memiliki minat serupa.
Perintis Sore Menulis, M.H Dutama mengaku bahwa pada mulanya kelompok ini tidak lebih seperti sebuah lingkaran yang seperti dalam bayangannya: Lingkaran apresiatif. Dirinya membayangkan dapat berkumpul dalam satu lingkaran tersebut.
