Meski demikian, Ia menemukan beberapa komoditas bapokting yang mengalami kenaikan, stabil dan ada yang harganya di bawah rata-rata.
“Contoh telur, telur ini menjadi acuan. Contoh, Rp27 ribu per kilogram, ternyata di warungnya bro adit (salah seorang pedagang) menjual Rp25 ribu per kilogramnya. Sementara, acuan penjualan diharga Rp27 ribu itu relatif stabil,” tuturnya.
Di tempat lain, ia juga menemukan beras medium, suplainya semua dari Sumedang, acuan penjualanya diharga Rp12.000 per kilogram, namun faktanya seharga Rp14.000.
Baca Juga:Gebyar Promo Shocktober 10.10, Tiket Masuk Taman Safari Bogor Hanya Rp230 Ribu, Simak Syaratnya!VIRAL! Warga Sarmi Papua Temukan Tank Bekas Perang Dunia II
“Memang ada kenaikan, namun masih ada dalam koridor. Tapi kami juga tidak mau mengambil risiko, kami bersama Forkopimda sepakat bahwa kita akan lakukan koordinasi langsung dengan bulog dan 1 atau 2 hari ke depan kami akan melakukan operasi pasar terbatas. Nanti tergantung skalasi, jika kenaikanya 15%, tetap akan kita lakukan operasi pasar namun terbatas sehingga tidak merugikan para pedagang juga, tapi jika kenaikanya sudah 40% itu kita akan guyur dan kerjasama dengan bulog.” ujarnya.
Selaku pemerintah daerah, pihaknya berharap agar kepentingan masyarakat harus terlindungi dengan mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang normal.
“Kepentingan pemerintah ialah konsumen dan masyarakat harus mendapatkan harga yang murah atau paling tidak sama dengan harga eceran tertinggi, paling tidak dikisaran yang tidak terlalu jauh, jika nanti suplai dan dimanya terjadi kesenjangan otomatis ada kelangkaan, maka kami akan lakukan kembali operasi pasar,” pungkas Herman. (Mg11)
