JABAR EKSPRES – Mengenal kopi sejak kecil, membuat Wulan Astuti menjadi pengusaha kopi dari hulu ke hilir, mulai budi daya hingga pemasaran ke luar negeri. Petani Milenial asal Kampung Cikubang, Desa Pusakamulya, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta, mengenal kopi dari ayahnya, yang dulunya sebagai pengepul kopi dan buah-buahan.
Sejak kecil, Wulan membantu ayahnya mengepul kopi dari para petani. Sayangnya, kopi yang dikepul merupakan kopi kejabruk atau campuran, tanpa melalui proses sortir, baik tingkat kematangan bahkan jenis robusta dan arabika.
Kopi yang ditampung Wulan sekarang, petik merah buah kopi untuk tingkat kematangannya. Kemudian, proses perambangan yang kopong pun dipisahkan hingga kemudian pengeringan. Hal itu tidak mudah, karena harus mengedukasi petani, yang sebelumnya memetik buah kopi yang masih muda atau hijau, bahkan tidak peduli jenisnya, yang menyebabkan merusak kualitas produksi kopi.
Baca Juga:Upaya Deteksi Dini, 171 Pegawai di Cimahi Lakukan Tes Urine oleh BNN dan BKPSDMDBule Asal Amerika Diduga Terlibat Dua Kasus Percobaan Pembunuhan di Negara Asalnya!
“Ketika dipisah dan melakukan penyortiran, yang awalnya menjual arabika hanya Rp20.000 paling mahal, kini harganya Rp75.000 per kilo untuk kopi arabika petik merah dan sudah proses pengeringan,” katanya.
Menginjak tahun 2017, Wulan mulai belajar me-roasting kopi di Cirebon. Alumni Unswagati yang saat ini menjadi UGJ, membawa kopi hasil produksinya dari Purwakarta dan sempat berjualan kopi di Cirebon.
Setelah lulus tahun 2019, Wulan kembali ke Purwakarta untuk melakukan budi daya kopi. Wulan bersama petani kopi di desanya membukan lahan di Gunung Burangrang Utara, yang dulu sempat longsor dan ditinggalkan. Kemudian dibuka kembali oleh Wulan dan warga sekitar sebanyak 196 orang. Pohon kopi yang sudah lama pun diremajakan kembali, hingga rebutan kokoak atau bibit kopi dari pohon induk. Wulan pun memasarkan kopinya secara offline menggunakan mobil pada setiap acara atau event di Purwakarta.
