JABAR EKSPRES – Prancis menyaksikan luapan ketidaksetujuan publik yang luar biasa pada Sabtu, 23 September 2023, ketika puluhan ribu orang turun ke jalan dalam demonstrasi besar-besaran yang bertujuan untuk mengecam rasisme dan kebrutalan polisi.
Diorganisir oleh partai-partai politik sayap kiri, serikat pekerja, dan berbagai organisasi masyarakat sipil, demonstrasi tersebut membawa banyak tuntutan.
Di antara tuntutan yang menonjol adalah tuntutan untuk peraturan yang lebih ketat yang mengatur penggunaan senjata api polisi, pembentukan badan independen untuk menyelidiki tuduhan pelanggaran polisi, dan peningkatan investasi negara di lingkungan yang kurang beruntung secara ekonomi, dilansir dari Dunyanews.
Baca Juga:Militer Israel Tembakan Drone dan Peluru Tank ke Gaza Seiring dengan Protes Para Demonstran di PerbatasanKrisis Kemanusiaan di Kongo, Puluhan Orang Meninggal Kelaparan Hingga Ribuan Orang Pengungsi Tinggal Tanpa Makanan
Sementara sebagian besar protes tetap damai, bentrokan yang terisolasi terjadi di pinggiran unjuk rasa di Paris.
Insiden-insiden tersebut termasuk perusakan bank dan pengepungan kendaraan polisi oleh beberapa demonstran, yang mendorong penggunaan gas air mata oleh penegak hukum untuk membubarkan kerumunan, dilansir dari France24.
Sebuah laporan dari media independen Prancis, Basta, seperti dikutip Anadolu Agency, mengungkapkan bahwa antara tahun 1977 dan 2020, 746 orang tewas akibat tindakan polisi, dengan 61 di antaranya adalah perempuan dan 82 anak di bawah usia 18 tahun.
