JABAR EKSPRES – Para delegasi peserta dari ‘The 2nd International Summer Course Of Natural Resources and Environmental Management Science ISCoNREM 2023’ melakukan kunjungan ke Balai Kota Bogor.
Rangkaian kunjungan yang berlangsung pada Sabtu (16/9) malam itu, diawali dengan Gala Dinner yang dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian tradisional, penayangan video profil Kota Bogor hingga sesi diskusi dan tanya jawab seputar penataan kota berbasis kearifan lokal, lingkungan dan kebudayaan.
Ia menuturkan, respon terhadap perubahan iklim dilakukan melalui mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Baca Juga:Ternyata Drama ini yang Paling Disukai Jung Hae-In Selama 10 Tahun Berkarir!Jung Hae-in, 10 Tahun Perjalanan dari Aktor Baru hingga Menjadi Bintang
Beberapa program penataan kota yang disampaikan oleh Syarifah Sofiah di hadapan para mahasiswa internasional adalah pengelolaan sampah, limbah dan pemanfaatan lahan.
Kemudian program pembenahan transportasi, pembangunan pedestrian, Program Bogor Tanpa Kantong Plastik (si BOTAK), Naturalisasi Ciliwung, Pemberlakuan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Program penurunan angka Stunting, Program Open Defecation Free (ODF), Pemanfaatan Lahan, Peningkatan Ruang Terbuka Hijau, Pengembangan Urban Farming dan Kampung Tematik.
“Jadi ini satu hal yang kalau membangun daerah ini yang menjadi tantangan yaitu mensinergikan antara tradisional dan kultur bagaimana membangun ekonomi tapi tetap kearifan lokal dan lingkungan terjaga,” ungkap Syarifah dikutip Senin, 18 September 2023.
“Jadi kalau kita lihat berbagai kota, berbagai daerah pasti akan mengutamakan ekonomi, tapi selain itu Kota Bogor tetap mempertahankan identitas karena tidak banyak kota yang memiliki identitas,” imbuhnya.
Kota Bogor memiliki landasan dalam melakukan penataan yakni green city, smart city dan heritage city.
Sekda mencontohkan bahwa Alun-alun Kota Bogor dahulunya merupakan area yang kini berubah menjadi ruang terbuka yang indah dengan background bangunan heritage Stasiun Bogor 1881.
