“Itu perumpaan yang sudah sangat mengkhawatirkan terkait dengan pemanasan global, kondisinya sudah bisa di lihat pada kondisi yang ada saat ini. Saya catat sampai bulan Mei itu semua sudah terjadi pada rapor tertinggi,” ungkap Dodo.
Dodo menjelaskan bahwa tahun 2023 menggambarkan pemanasan global yang terjadi selama fenomena El Nino. Hal ini mirip dengan situasi pada tahun 2019 yang juga merupakan tahun pemanasan global tertinggi, bertepatan dengan El Nino.
Kondisi saat ini merupakan dampak dari peningkatan suhu yang signifikan, yang tercermin dalam selisih anomali suhu udara rata-rata tahunan yang terus meningkat. Meskipun begitu, Dodo juga mencatat fluktuasi suhu yang terjadi dari musim ke musim.
Baca Juga:Bocoran Terbaru Samsung Galaxy S23 FE, Dibekali Kamera Selfie 10MP?Teror Penikaman di Korea Selatan Membuat Warga Cemas
“Termasuk wilayah Indonesia analisa suhu ada tren kecenderungan yang terus meningkat dari waktu ke waktu seperti halnya peningkatan global. Di samping itu tentu selain ada tren kenaikan suhu meningkat ada fluktuasi dari waktu ke waktu musim ke musim,” jelas dia.
Musim Dingin yang Panas di Amerika Selatan
Meskipun seharusnya sedang berlangsung musim dingin di Amerika Serikat, beberapa wilayah mengalami gelombang panas yang luar biasa. Para ilmuwan berpendapat bahwa ini adalah akibat dari perubahan iklim yang di perparah oleh fenomena El Nino.
Buenos Aires, ibu kota Argentina, mencatat rekor suhu terpanas dalam 117 tahun pada 1 Agustus. Di Chile, suhu panas bahkan mencapai 40 derajat Celsius.
Ariel Mendoza, seorang warga Paraguay, mengungkapkan bahwa meskipun negaranya biasa mengalami cuaca panas, saat ini suhu lebih tinggi daripada biasanya akibat perubahan iklim.
