Duit Kompensasi Bagi Penemu Gading Gajah Purba di Sragen Menimbulkan Kontroversi

Kontroversi terkait duit kompensasi bagi penemu gading gajah purba di sragen
Kontroversi terkait duit kompensasi bagi penemu gading gajah purba di sragen
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Ketika warga di Sragen, Jawa Tengah, menemukan fosil gading gajah purba, mereka di janjikan kompensasi duit sebesar lebih dari Rp1 juta sebagai bentuk penghargaan. Namun, nilai kompensasi tersebut memicu kontroversi di kalangan netizen.

Suwita Nugraha, Penjabat Penyelamatan Temuan dan Monitoring Situs Terpadu Sangiran. Mengungkapkan bahwa Museum Sangiran akan memberikan penghargaan kepada Rudy Hartono, penemu fosil gading tersebut karena telah melindungi fosil.

“Nominalnya nunggu tim appraisal dari kantor kami, belum di lakukan karena anggota tim appraisal masih dinas luar. Seperti ini (gading gajah) lebih dari Rp 1 juta, ini sebagai bentuk apresiasi dari pemerintah,” jelasnya.

Baca Juga:Viral! Ini Deretan Fakta Terkait Fenomena Hujan Satu Rumah di TasikmalayaVivo Rilis Varian Warna Gold untuk Y36 di Indonesia, Simak Harga dan Fitur Unggulnya

Suwita juga memperkirakan bahwa fosil gading ini berasal dari gajah yang hidup sekitar 800 ribu tahun yang lalu. Rudy Hartono menemukan fosil gading sepanjang 3,25 meter saat menggali pondasi rumah di Desa Ngebung, Sragen.

Meskipun nominal kompensasi belum pasti, angka lebih dari Rp1 juta ini mendapat beragam komentar dari warganet. Banyak yang berpendapat bahwa jumlah ini terlalu rendah.

Netizen dengan akun @byoruto menulis, “Bisa di tolak gak sih? Lebih baik dijual kepada kolektor, pasti lebih menguntungkan.”

Sementara, Akun @masmasayamkfc berkomentar, “Di luar negeri, penemuan semacam ini sangat di hargai. Bahkan ada yang di beri imbalan hingga 700 juta, sungguh mendadak, padahal yang di temukan hanya taring macan purba.”

Selain itu, akun @rakaputrapr menyoroti bahwa profesi arkeologi di Indonesia belum cukup menjanjikan. Sehingga imbalan seperti ini mungkin di anggap rendah.

Sebuah studi oleh Peter C. Kjærgaard, seorang pakar dari Interdisciplinary Evolutionary Studies di Universitas Aarhus, mengungkapkan bahwa fosil semakin di anggap sebagai objek investasi, seperti seni dan furnitur berharga.

0 Komentar