JABAR EKSPRES – Nenek dari Nahel, remaja yang tewas akibat tembakan polisi di Paris, Prancis, mengajukan permohonan dengan santai kepada para demonstran di Prancis untuk menghentikan aksi mereka setelah malam kelima unjuk rasa.
Menurutnya, para demonstran perusuh menggunakan kematian cucunya pada Selasa lalu sebagai dalih untuk menyebabkan kerusuhan. Oleh karena itu, pihak keluarga berharap agar suasana tenang dapat kembali terwujud.
“Saya bilang kepada mereka [perusuh] untuk berhenti,” kata Nenek Nahel, Nadia, dalam wawancara dengan saluran televisi BFM TV pada Minggu (2/7), seperti yang dilansir oleh Reuters.
Baca Juga:Polemik Ponpes Al Zaytun: Bareskrim Polri Meminta Klarifikasi, Nasib Panji Gumilang Kian Tak PastiDaftar Harga Tiket Taylor Swift di Singapura Sudah Rilis, Cek di Sini!
Melansir dari berbagai sumber Kementerian Dalam Negeri Prancis melaporkan bahwa sebanyak 1.311 orang telah ditangkap oleh aparat sejak dimulainya demonstrasi empat hari yang lalu. Namun, data memperkirakan bahwa jumlah orang yang ditangkap mungkin lebih dari 2.000.
Pemerintah Prancis juga menyatakan bahwa setidaknya 96 anggota polisi terluka saat menjaga aksi unjuk rasa di berbagai wilayah. Terdapat 58 serangan langsung terhadap aparat polisi. Dua anggota polisi bahkan tertembak saat menjalankan tugas pengamanan aksi di Vaulx-en-Velin, pinggiran kota Lyon.
Data pemerintah Prancis mencatat bahwa unjuk rasa telah mengakibatkan 2.560 titik kebakaran di jalan-jalan umum. Sebanyak 1.350 di antaranya adalah mobil yang terbakar, sementara 234 bangunan juga ikut terdampak.
