Benarkah Marketplace Guru Merendahkan Marwah Guru?

JABAREKSPRES – Gagasan Marketplace Guru yang diusung oleh Nadiem Makarim selaku, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mendapat banyak perhatian publik.

Perihal gagasal Marketplace Guru tersebut kemudian menimbulkan kontroversi dari berbagai pihak. Nadiem sendiri berpendapat bahwasannya dengan platform tersebut nantinya dapat membenahi persoalan guru honorer yang telah lama.

Nadiem menyampaikan gagasanya di Rapat Kerja bersama Komisi X DPR RI. Ia berspekulasi kalau Marketplace Guru telah ada maka dapat membantu persoalan guru yang ada selama ini.

Namun gagasan tersebut dibantah oleh banyak pihak, di antaranya oleh Ketua X DPR RI Syaiful Huda. Menurut Syaiful Huda adanya Marketplace Guru tidak bisa menuntaskan permasalahan yang ada, karena tidak bisa menjawab masalah bagaimana supaya guru honorer dapat menjadi PNS dengan cepat.

Baca Juga: 10 Perguruan Tinggi Terbaik di Jawa Barat 2023 Versi UniRank

Penolakan lainnya dikemukakan oleh Dudung Abdul Qodir selaku Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia, ia berpendapat jikalau Marketplace Guru direalisasikan maka dapat membahayan guru-guru.

Perihal tersebut dikarenakan Nadiem ingin mengubahnya dari atas terlebih dahulu bukan dari bawah. Nadiem mengusung konsep mengubah sistemnya lalu SDM dan transformasi struktrural.

Ihwal demikian dapat berbahaya untuk para guru.

Marketplace Guru Gagasan Kemendikbudristek Merendahkan Profesi Guru?

Pro kontra terkait adanya ide untuk membuat sebuah marketplace yang dapat mewadahi guru hingga kini masih ramai diperbincangkan publik.

Sebagian berpendapat bahwasannya dengan adanya Marketplace Guru maka akan merendahkan marwah guru, perihal demikian bukan tanpa alasan.

Menurut banyak opini alasan penolakan adanya marketplace karena tak mau disamakan dengan barang.

Ketika ada sebuah marketplace maka lowongan tersebut akan tersaji di sana, namun perihal tersebut dirasa kurang pas sebab marketplace kita ketahui sebagai tempat jual beli barang.

Salah satu konten kreator BLOKO SUTO CHANNEL berpendapat bahwasannya dengan adanya marketplace tersebut kurang tepat.

Ia menyarankan kepada Nadiem Makarim ketika membuat suatu kebijakan mesti ada forum rektor, akademisi, forum guru, dan lain-lain.

Undang para guru dan lakukan musyawarah duduk bersama, bukan hanya diusung melalui rapat dengan DPR atau Menteri lainnya.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan