Destinasi wisata ini memberikan pengalaman yang unik karena kental dengan suasana bergaya Eropa. Kota Tua juga telah menjadi kawasan Low Emission Zone atau zona rendah emisi, yang berarti hanya beberapa kendaraan yang diizinkan melintas di sekitar Kota Tua. Oleh karena itu, udara di sekitar Kota Tua tetap bersih dan tidak terganggu oleh emisi kendaraan, menciptakan nuansa kota yang mirip dengan kota-kota di Eropa pada tahun 1900-an awal.
Kota Lama Semarang
Kota Lama telah menjadi salah satu tujuan wisata retro yang sangat populer di Semarang, bersaing dengan Lawang Sewu dan Klenteng Sam Poo Kong. Tempat ini terkenal karena suasana Eropa yang kuat terasa dari bangunan-bangunan yang ada.
Kompleks Kota Lama telah ada sejak abad ke-1700 dan pada masa itu menjadi salah satu pusat pemerintahan Belanda. Banyak orang menyebut kawasan Kota Lama sebagai Little Netherland karena gaya bangunannya yang berbeda dari daerah sekitarnya.
Baca Juga:Saksi Ungkap Detik-Detik Helikopter Jatuh di Ciwidey, Begini Keadaan KorbanPolisi Jelaskan Kenapa Mario Dandy Pakai Kabel Ties Sendiri: Jadi Gini
Saat mengunjungi kawasan Kota Lama Semarang, Anda dapat mengunjungi bangunan bersejarah yang masih digunakan sampai sekaramg, seperti Gereja Blenduk, Taman Srigunting, Museum 3D Trick Art, Galeri Seni Kontemporer Semarang, Pasar Klitikan, dan masih banyak lagi. Bagi pecinta barang antik, Anda bisa mampir ke Pasar Klitikan Kota Lama, di mana Anda dapat menemukan berbagai pernak-pernik barang tempo dulu.
Kota Tua Salatiga

Berlokasi di Jalan Diponegoro, Salatiga, pengunjung akan merasakan sensasi seperti kembali ke masa lampau. Salatiga adalah salah satu kota yang memiliki iklim yang cenderung sejuk karena kedekatannya dengan Gunung Merbabu.
Kota ini juga kaya akan bangunan-bangunan tua yang menjadikannya diakui sebagai kota bersejarah dan berusia tua di Indonesia yang tetap dijaga dan dilestarikan dengan baik. Bukti dari hal ini adalah keberadaan bangunan-bangunan kuno yang dapat ditemukan saat mengunjungi kota ini, salah satunya adalah Gereja Tua yang dikenal sebagai GPIB (Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat). Gereja ini masih berdiri tegak dengan megah, memperlihatkan gaya arsitektur Belanda yang khas dengan sentuhan retro dan nuansa kuno.
