Antara Mpu Gandring dan Brigadir Joshua

Tanpa menggubris ancaman tadi, Ken Arok segera cabut dari workshop milik Mpu Gandring (dan pastinya belum bayar ongkos..he..he).

Tidak lama kemudian oleh Ken Arok keris ditunjukkan ke Kebo Ijo. Oleh Kebo Ijo keris dipinjam dan dipamerkan ke masyarakat setempat.

Ken Arok yang ambisius melihat peluang bahwa ia bisa lakukan “lempar batu sembunyi tangan”.

Ia mengambil keris tadi dari rumah Kebo Ijo secara diam-diam lalu mendatangi Kadipaten Tumapel.

Di lokasi terakhir ini ia membunuh sang bupati yakni Tunggul Ametung dan memperistri jandanya yakni Ken Dedes (jadi udah kayak buy one get one free..wkwkwk).

Karena selama ini masyarakat tahunya Kebo Ijo sebagai pemilik keris maka Kebo Ijo ditangkap dana dihukum mati dengan cara ditusuk dengan keris yang sama.

Jadi sudah tiga orang tewas dibunuh oleh keris. Sedang empat orang sisanya menurut sejarah adalah Ken Arok, Ki Pangelasan, Anusapati dan Ken Dedes.

Mungkin paparan kisah versi penulis di atas ada kekeliruan, untuk itu pembaca bisa kulik sendiri dari pelbagai laman sejarah.

Ternyata apa yang terjadi di jaman Ken Arok itu sekarang terjadi. Bedanya, dahulu akibat ulah satu orang menimbulkan korban jiwa banyak orang.

Sekarang, yang tewas satu orang akibat ulah satu orang, namun menimbulkan kesengsaraan puluhan orang, serta kepenatan masyarakat. Kita tunggu saja akhir dari peradilan kasus Sambo.

Akankah vonis hakim menambah korban jiwa sebagai tebusan atas kematian Brigadir Joshua? *) Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan kemasyarakatan.

 

JUDUL SAMBUNGAN

Kasus Pembunuhan Penuh Drama

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan