oleh

Desa Babakan Peuteuy Tak Khawatir Soal Ancaman Kekeringan Saat Kemarau

CICALENGKA – Desa Babakan Peuteuy, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung belum memasuki musim kemarau. Meski begitu, pihaknya tak khawatir jika musim tersebut datang.

Diketahui, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memmprakirakan musim kemarau pada tahun ini. Melihat kondisi iklim di Indonesia, kehadiran musim kemarau bergantung pada situasi Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.

Selain itu, badai La Nina diprakirakan masih akan berlangsung hingga pertengahan 2022. Maka potensi peningkatan curah hujan tetap bisa terjadi.

Akibatnya, untuk di beberapa wilayah atau zona musim Tanah Air, Indonesia diprakirakan akan mengalami keterlambatan musim kemarau.

Kendati demikian, ancaman kemarau masih menghantui masyarakat di Indonesia terutama yang wilayah yang tergolong minim sarana air bersih. Karenannya, ancaman musim kemarau perlu diantisipasi sejak dini supaya fenomena kekeringan di lingkungan masyarakat bisa diminimalisir.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Desa Babakan Peuteuy, Ricky mengaku, tak terlalu khawatir dengan ancaman musim kemarau.

“Karena alhamdulillah di kita (Desa Babakam Peuteuy) gak pernah kekeringan, warga pun sarana air bersihnya tercukupi,” kata Ricky kepada Jabar Ekspres di ruang kerjanya, Kamis (23/6).

“Kita juga sudah pasang PAMSIMAS (Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat),” lanjutnya.

Diketahui, PAMSIMAS merupakan program inklusif yang melibatkan peran aktif masyarakat baik dari perencanaan, pelaksanaan hingga pemeliharaan.

“Selain PAMSIMAS di (wilayah) Desa Babakan Peuteuy juga ada embung (penampung air) yang aktif bisa digunakan dan dimanfaatkan untuk kepentingan warga,” imbuh Ricky.

Oleh karena itu, diucapkan Ricky, pihak Desa Babakan Peuteuy tidak akan dihantui kekeringan. Sebab sudah mengantisipasi dengan menyiapkan bermacam sarana air bersih bagi warga.

“Tidak menjadi terlalu khawatir, karena selama ini juga alhamdulillah Desa Babakan Peuteuy gak pernah (mengalami) kekeringan,” ujarnya.

Ricky menjelaskan, ketika musim kemarau datang yang perlu dikhawatirkan warga adalah kebakaran hutan.

“Karena di kita (Desa Babakan Peuteuy) masih banyak area Ruang Terbuka Hijau (RTH). Masih banyak pepohonan bambu dan perkebunan,” tuturnya.

Ricky menerangkan, karena banyaknya tumbuhan besar membuat kebakaran di area perkebunan atau RTH dekat pemukiman warga Desa Babakan Peuteuy kerap terjadi setiap musim kemarau.

“Kadang karena ranting dan daun pohon yang kering kemudian gak sengaja kena bara sisa pembakaran (padi atau sampah) memicu terjadinya kebakaran,” katanya.

Meski demikian, Ricky mengaku, kebakaran yang kerap terjadi di desa tersebut bisa diatasi dengan cepat dan tidak pernah memakan korban jiwa.

“Langsung diatasi gotongroyong warga dan petugas, apalagi sekarang kita punya RB2P (Relawan Bencana Babakan Peuteuy). Mereka selalu sigap dan gesit ketika ada peristiwa,” pungkasnya.

“Harapannya semoga kemarau yang akan datang gak terjadi kebarakan-kebakaran lagi, walaupun kita sudah bisa mengatasinya tapi tetap khawatir (memakan korban) juga,” tutup Ricky. (bas)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.