oleh

BBM Pertalite dan Solar Bakal Dibatasi, Begini Kata Ekonom Unpas

JABAREKSPRES.COM – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi Pertamax pada April lalu, memicu migrasi besar-besaran konsumen Pertamax ke Pertalite subsidi. Oleh karena itu, pemerintah berencana membatasi pembelian untuk kendaraan mewah.

Selain itu, pemerintah pun bakal memberlakukan pembelian Pertalite menggunakan aplikasi My Pertamina. Tujuannya untuk mendata dan membatasi pembelian. Alhasil, data yang diverifikasi jadi acuan pertalite tepat sasaran.

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2022, pemerintah mengalokasikan total anggaran subsidi sebesar Rp206,9 triliun. Terbagi: subsidi energi Rp134 triliun, subsidi non/energi Rp72,9 triliun.

Baca Juga:  Potensi Pajak Parkir Rp45 M, Pengamat: Tidak Ada Alasan Kalau Sampai Terjadi Penurunan

Sementara konsumsi Pertalite, berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, di tahun 2021 hampir mencapai 80% atau sebesar 23 juta kiloliter (KL) diantara BBM lainnya. Seperti: Pertamax, Pertamax Turbo dan Premium.

Saat ini, Pertalite menjadi BBM andalan masyarakat Indonesia. Terlebih dalam konsumsinya pun kian meningkat. Tercatat, dari tahun 2017 hingga 2021: 14,5 juta KL, 17,7 juta KL, 19,4 juta KL, 18,1 juta Kl dan 23 juta KL.

Disamping itu, pemerintah pun perlu mengantisipasi pembatasan pembelian Pertalite. Dikhawatiran mengganggu perekonomi maupun meningkatnya inflasi. Seperti saat kenaikan Pertamax. Mulai dari PPN yang menjadi 11 persen hingga perencanaan pajak karbon.

Baca Juga:  Membeli Pertalite Nanti Harus Menggunakan Aplikasi My Pertamina, Berikut Cara Daftarnya

Pakar ekonomi Universitas Pasundan (Unpas), Acuviarta Kartabi mengatakan, pembatasan pembelian bahan bakar minyak jenis Pertalite merupakan bagian dampak dari kenaikan Pertamax.

Menurutnya, pembatasan Pertalite pun mempunyai dampak terhadap inflasi. Pasalnya, saat ini sejumlah komoditas seperti: cabai merah, cabai rawit, bawang merah, serta bawang putih kian merangkak naik.

”Akan berdampak pada inflasi. Sebab, mungkin orang terpaksa mengkonsumsi Pertamax lalu dibebankan kepada harga produk yang mereka hasilkan,” kata Acuviarta kepada Jabar Ekspres, Kamis (16/6).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.