oleh

Wabah PMK Menggila Jelang Idul Adha 2022, Puan Maharani Bereaksi

Jabarekspres.com – Ketua DPR RI Puan Maharani langsung bereaksi mengetahui wabah PMK di Tanah Air ini menggila jelang Idul Adha 2022.

Puan Maharani mendesak pemerintah mempercepat tindak pengendalian penyebaran wabah PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) pada ternak.

Berdasarkan informasi yang diterima, Puan menyebut wabah PMK telah meluas menyerang hewan ternak, yang kini menimbulkan kekhawatiran masyarakat jelang Iduladha.

“Kasus PMK pada hewan ternak sudah semakin serius karena penyebarannya semakin meluas,” kat Puan.

“Pemerintah harus segera melakukan pengendalian karena masyarakat sudah semakin cemas mengingat sebentar lagi Iduladha,” tuturnya menambahkan.

Perlu diketahui, Idul Adha identik dengan pelaksanaan penyembelihan hewan kurban seperti sapi dan kambing.

Baca Juga:  Jelang Idul Adha, Peternakan Diperiksa untuk Antisipasi PMK

Sementara itu, penyebaran penyakit mulut dan kuku pada ternak ini telah menyebar ke 18 provinsi dan 163 kabupaten/kota.

Meski pemerintah sudah menyatakan hewan kurban yang disediakan tahun ini bukan dari daerah yang terkonfirmasi PMK, namun kekhawatiran masyarakat masih ada.

Sehingga, Puan mengingatkan Pemerintah untuk merespons kegelisahan warga, khususnya umat Islam yang merayakan Idul Adha.

“DPR berharap agar vaksinasi untuk menekan kasus penyakit mulut dan kuku pada hewan ternak ini segera dilakukan,” kata dia.

“Dengan begitu, kita bisa mencegah penyebaran virus semakin luas,” harap perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI itu.

Menyoroti soal upaya vaksinasi PMK, Puan mendorong vaksinasi bagi hewan ternak yang tidak terpapar PMK tersebut harus diprioritaskan untuk daerah-daerah yang sudah terjangkit penyakit mulut dan kaki serta wilayah sekitarnya.

Baca Juga:  DPR RI Menyoroti Meninggalnya 149 WNI di Sel Imigrasi Malaysia, Sukamta: Kasus Ini Kurang Perhatian!

Ada 3 juta dosis vaksin yang akan segera datang dengan peruntukkan bagi wilayah yang terdampak penyakit mulut dan kuku.

“Pemerintah juga harus memperbanyak dokter hewan pada wilayah-wilayah terdampak,” ucapnya.

“Sebab beberapa daerah sudah merasa kewalahan karena kurangnya tenaga medis yang bertugas melakukan penyuntikan obat untuk sapi yang terpapar PMK,” kata Puan.

Akibat kurangnya dokter hewan, lanjut dia, penanganan sapi yang terpapar PMK menjadi lambat, seperti yang terjadi di NTB (Nusa Tenggara Barat).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.