oleh

Haji Aseng

Oleh: Dahlan Iskan

Ia sudah lama menunggu saya. Di depan masjid besar di kota kecil itu. ”Kita salat duha dulu,” katanya. Kami pun menuju tempat ambil air wudu.

Rupanya ia biasa bersalat duha. Tidak seperti saya. Itu adalah salat duha saya yang pertama –setidaknya dalam dua tahun terakhir.

Dalam hal salat saya kalah jauh dari Aseng. Bukan saja seringnya, juga khusyuk-nya. Saya perhatikan salatnya: tiga kali lebih lama dari salat saya.

Sambil menunggu Aseng menyelesaikan salat duha –salat khusus ketika matahari setinggi penggalah– saya menuju tumpukan Alquran di rak yang menempel di dinding. Ingin tahu saja.

Itulah tumpukan Quran khas masjid zaman sekarang: banyak juga buku kecil ditaruh di situ. Isinya: doa dan tahlil. Sampulnya: gambar orang yang telah meninggal dunia. Atau nama orang itu.

Itulah buku yang diterbitkan untuk memperingati orang yang meninggal dunia. Biasanya buku seperti itu dibagikan kepada peserta doa di rumah duka. Lalu sebagian ditaruh di masjid.

Saya lihat, misalnya, ada buku untuk memperingati meninggalnya Helland Eddward (Ewai) bin H. Moh Hasan. Dari nama yang meninggal itu kelihatannya almarhum dari suku Dayak. Memang banyak juga orang Dayak yang Islam –meski umumnya Kristen.

Baca Juga:  Ketua Umum

Terbaca juga pengumuman Umrah New Normal: Rp 35,5 juta. Yang Normal Rp 30,5 juta.

Masjid itu ada di Kotabangun. Kota kecil sekali. Di hulu Sungai Mahakam. Kami janjian bertemu Aseng di situ. Masjid itu, semula, saya kira, hanya untuk memudahkan penanda meeting point. Ternyata ia mengajak salat duha juga.

Aseng datang dari arah Balikpapan. Saya datang dari Samarinda. Ia harus bermobil 3,5 jam baru sampai di situ. Saya setengah jam lebih dekat. Ternyata ia tiba lebih dulu. Mobil saya memang tidak terlalu laju. Agar bisa sambil makan nasi kuning HHH bikinan istri: hintalu hiwak haruan.

Ternyata banyak sekali orang Kotabangun yang mengenal Aseng. Ia terkenal. Mereka tidak memanggil Tjin Seng dengan Aseng. Nama lokal Aseng di situ adalah ”Ji”, singkatan dari ”Haji”. Mereka tahu Tjin Seng itu Islam. Sudah haji. Rajin salat. Suka membantu masjid.

Kami parkir di seberang masjid besar yang modern itu. Yakni satu lokasi parkir di pinggir sungai Mahakam. Sebuah speed boat sudah menunggu di dermaga dekat lapangan parkir.

Banyak sekali mobil yang diparkir di situ. Hampir 100 persen Pajero Sport. Banyak pula mobil yang bermalam. Atau beberapa malam. Mobil itu ditinggal begitu saja. Pemiliknya ganti kendaraan dengan speed boat.

Parkir itu gratis. Biar pun satu minggu. Ada kotak amal di halaman masjid. Silakan memasukkan uang berapa pun ke kotak itu. Tidak ada yang melihat nilainya.

Baca Juga:  Merdeka Huey

Saya pun naik speed boat itu. Bermesin tunggal, Yamaha 200 PK. Wajib pakai pelampung. Logistik lengkap. Ada bensin cadangan untuk mesin speed boat. Ada juga logistik cadangan untuk perut dan kerongkongan.

Kami akan berada di speed boat empat jam lamanya. Dari dermaga di tepian Mahakam itu kami meluncur mencari muara Sungai Belayan. Melewati bawah jembatan Liang yang melengkung gagah. Juga sudah dicat merah.

Speed boat kami terus ke arah hilir. Di Kaltim tidak ada istilah utara-selatan-timur-barat. Yang ada: ke arah hilir-hulu-darat dan laut.

Pun istri saya: tidak tahu apa itu utara-selatan-timur dan barat. Kalau dia bilang ”mau ke darat” itu artinya ke arah menjauhi sungai. ”Mau ke laut” artinya ke arah mendekati sungai. ”Ke hulu” artinya ke arah dari mana air sungai mengalir. ”Ke hilir” berarti ke arah air sungai menuju muara.

Kadang ”ke hulu” itu artinya ke timur, kalau sungai lagi berbelok. Bisa juga “ke hulu” itu mengarah ke barat tergantung belokan sungai.

”Di Jawa ini saya bingung. Ngalor ngidul ngetan ngulon,” ujarnyi awal-awal di Jawa dulu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.