Praktik-praktik yang dijalankan untuk mengajak masyarakat masuk dalam NII, dijelaskan Dede tak bisa dilihat karena pergerakannya dilakukan secara underground atau istilahnya di bawah tanah.
Walaupun begitu, Dede menerangkan, masyarakat bisa lebih waspada terhadap ajakan ideologi NII dengan selektif terhadap pengajian atau ceramah-ceramah Keislaman.
“Ajakannya dari sana, mereka bisa banyak menarik umat melalui ceramah. Disesuaikan ajakannya tergantung lingkungan misal untuk anak kuliahan komunikasinya bagaimana, untuk masyarakat kalangan pra menengah bagaimana itu berbeda,” papar Dede sambil memadamkan rokok filternya ke dalam asbak yang sudah banyak puntung.
Baca Juga:Ridwan Kamil Dibantu Komunitas Masyarakat Bern Cari ErilHarga ayam tembus Rp55 Ribu Perkilo, Pedagang Keluhkan Omzet Turun Karena Pembeli Berkurang
“Yang pasti mereka (NII) menggelar dakwah atau ceramahnya itu tidak di masjid-masjid tapi di rumah atau kontrakan,” tambah Dede yang kemudian meneguk kopinya setelah lama didiamkan.
Perjalanan Dede dan Iwan bertahan cukup lama, hingga pada 2005 mereka pun akhirnya memutuskan untuk tidak aktif dalam pergerakan NII baik secara struktual maupun sosial internal.
Bukan tanpa alasan, Dede dan Iwan mengaku, keputusan tidak aktif dalam pergerakan NII merupakan keinginan pribadi atas dasar ketidak adilan yang dirasakan.
“Tugas kita hanya merekrut dan mengumpulkan uang, yang nantinya diberikan ke pimpinan-pimpinan sampai ke bagian pusat. Disamping itu, ada hal-hal yang tidak sesuai, kita juga punya fiqih, paham tentang Islam melalui belajar,” ucap Deden.
“Salah satu contoh kewajiban untuk menabung yang disebut Indikhor, tabungan kita di negara yang akan dikembalikan dalam jangka 5 tahun dengan faidah yang berlipat ganda. Mungkin karena pembangunan belum selesai, ketika ditagih tidak diberikan. Itu adalah kebohogan,” lanjut Deden lalu menyulut rokok filter yang dia keluarkan dalam bungkus.
Adapun sanksi yang diberikan ketika tidak mengumpulkan uang dan merekrut anggota baru, maka secara presentase ditanggungkan ke bulan selanjutnya. Deden menjelaskan, tidak aktifnya dia dalam NII memang menjadi pertanyaan anggota yang lain, khawatir Deden keluar dari barisan perjuangan.
“Sejak 2005 saya memutuskan tidak aktif dan 2006 saya sudah menjaga jarak dengan NII sampai akhirnya total keluar dari NII. Karena selama berkecimpung di NII benar-benar tersiksa. Saya tidak bekerja dan harta pun dari rumah terkuras demi NII,” imbuh Deden.
