Dede mengaku, ketika awal masuk menjadi anggota NII merupakan keinginannya sendiri tanpa ada paksaan.
Menurutnya, penyebaran ideologi NII memang mengaplikasikan norma-norma Keislaman dengan aturan dan hukum berdasarkan Al-quran serta sesuai ajaran Rosulullah Nabi Muhammad SAW.
“Dakwahnya logis juga dan memang contoh-contoh kehidupan tertulis di Al-quran, jadi saya yang (tergolong) anak nakal ingin berubah dan membuktikan kepada orangtua dengan menjadi lebih baik,” ujar Dede yang duduk bersandar dengan jaket bomber merah dan bercelana jeans hitam panjang.
Baca Juga:Ridwan Kamil Dibantu Komunitas Masyarakat Bern Cari ErilHarga ayam tembus Rp55 Ribu Perkilo, Pedagang Keluhkan Omzet Turun Karena Pembeli Berkurang
Dede saat itu 17 tahun, remaja produktif dengan darah muda yang menggebu-gebu. Akan tetapi, usia tersebut merupakan masa-masa pencarian jati diri, sehingga Dede pun kala itu secara sukarela bergabung menjadi anggota NII.
“Saya dibai’at di tempat yang disebut kantor, lokasinya gak tahu dimana karena hanya pengurus (pusat) yang tahu, sampai jadi Camat juga saya gak tahu lokasinya di mana,” imbuhnya.
Senada dengan dengan Dede, Iwan mengaku dibai’at tanpa tahu dimana lokasi tempatnya.
“Saya juga angkatan 1995 pas awal masuk. Waktu itu alasannya sama, karena diajak ikut berjuang (dalam jalan Keislaman),” ucap Iwan sambil mengaduk teh hitam panasnya yang telah ditambahkan gula pasir.
Perjalanan Dede dan Iwan selama tergabung dalam NII disebut penuh dengan kendala hingga problematika internal.
“Kita ada aturan, karena secara struktural ini membentuk negara. Semua sudah dikonsepkan. Kita yang paling ditekankan itu mengajak masyarakat ikut masuk NII dan bayar uang per bulan,” papar Iwan yang langsung meniup teh hitam panasnya agar hangat ketika diminum.
Perkataan Iwan diaminkan oleh Dede. Aturan tersebut perlu dijalankan para anggota untuk dinilai aktif dan sebagai standarisasi agar diangkat menjadi pejabat.
Baca Juga:Pintu Air Sungai jadi Fokus Pencarian Anak Ridwan KamilRealisasi APBD Capai 23,95 Persen, Begini ‘Jurus’ Pj, Bupati Bekasi Optimalkan Penyerapan Anggaran
Seperti NKRI, pejabat dan kewilayahan yang dipegang oleh pejabat NII mulai dari Kepala Desa, Camat, Bupati hingga Gubernur bahkan ada pula Presidennya versi NII.
“Sebelum jadi pejabat ada pelatihan dulu. Saya aja waktu jadi Kades (Kepala Desa) itu pelatihan 3 hari 3 malam. Termasuk untuk Camat pun sama, ada pelatihan selama 3 hari 3 malam,” ujar Dede yang sudah menyulut rokok filternya.
