Penyakit Mulut dan Kuku pada Hewan, Manusia Bisa jadi Perantara Penularan!

Ilustrasi: Petugas kesehatan saat memeriksa sapi untuk memastikan dalam kondisi sehat. (Istimewa)
Ilustrasi: Petugas kesehatan saat memeriksa sapi untuk memastikan dalam kondisi sehat. (Istimewa)
0 Komentar

GRESIK – Dinas Pertanian Gresik menetapkan kejadian luar biasa (KLB) terhadap wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan.

Kabupaten Gresik merupakan salah satu dari empat daerah di Jawa Timur yang diserang wabah penyakit mulut dan kuku.

Sebanyak 725 sapi setempat terjangkit penyakit mulut dan kuku, dari jumlah tersebut 13 sapi di antaranya mati.

Baca Juga:Bolehkah Sedekah dengan Uang Pinjaman? Begini Jawaban Buya YahyaAdakah Keterkaitan Hepatitis Misterius dengan Virus Covid-19? Begini Kata Peneliti

Kepala Dinas Pertanian Gresik Eko Anindito Putro menyebut wabah penyakit mulut dan kuku terdeteksi di tujuh kecamatan, di antaranya Wringinanom, Driyorejo, Kedamean, Menganti, Benjeng, Balongpanggang, dan Cerme.

Dia menjelaskan meski manusia tidak akan tertular, manusia bisa menjadi perantara penyebaran virus PMK ke ternak-ternak yang masih sehat.

Maka dari itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik telah melakukan pembatasan area ternak, seperti menutup sejumlah pasar hewan guna memutus rantai penyebaran virus PMK.

“Pasar hewan menjadi salah satu pintu masuk penyebaran PMK sehingga mobilitasnya harus dibatasi. Sapi yang di dalam jangan sampai keluar dan yang di luar jangan sampai masuk,” kata Eko.

Saat ini, kata Eko, Dinas Pertanian telah berkoordinasi dengan Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) untuk membantu penanganan di lapangan.

Dia mengakui saat ini, jumlah dokter hewan di instansi pemerintah tidak sebanding dengan jumlah kasus yang ada dan dibutuhkan status kejadian luar biasa (KLB).

Medis Veteriner Dinas Pertanian Kabupaten Gresik drh. Budi Santoso menegaskan pihaknya terus melakukan penelusuran untuk memantau penyebaran PMK agar tidak makin meluas.

Baca Juga:Rekomendasi Film Overdrive, Sinopsis dan TrailernyaPPKM Kembali Diperpanjang Hingga 23 Mei 2022

Selain itu, mereka juga melakukan penanganan terhadap sapi-sapi yang terpapar dengan menyuntikkan vitamin dan antibiotik, serta dipisahkan dari ternak sehat. (jpnn)

0 Komentar