oleh

Adakah Keterkaitan Hepatitis Misterius dengan Virus Covid-19? Begini Kata Peneliti

Jabarekspres.com – Hingga kini hepatitis misterius yang menyebar ke seluruh dunia sejak April 2022 masih belum diketahui dari mana asalnya.

Namun, para ilmuwan menyelidiki keterkaitan kasus hepatitis misterius ini dengan virus Covid-19.

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan hepatitis tersbeut tidak sepenuhnya misterius karena bisa jadi merupakan dampak sistemik dari infeksi virus Covid-19.

Dia menyebut setiap varian Covid-19 menginfeksi manusia dan menularkannya dalam bentuk infeksi saluran pernafasan.

Menurutnya, ada kemungkinan dampak-dampak lain yang mengganggu atau merusak bagian-bagian lain dalam tubuh. Termasuk mengganggu fungsi dari liver atau Hepar.

Dia menjelaskan pada masa awal-awal merebaknya pandemi Covid-19 sudah ada beberapa kasus yang dilaporkan bahwa pasien Covid-19 mengalami gejala mirip hepatitis yakni beberapa bagian tubuh yang berubah menjadi kekuningan.

Namun saat ini seiring mutasi dan kemunculan varian baru khususnya Omicron yang lebih cepat menular, muncul pola baru yakni infeksi pada kelompok anak-anak yang umumnya belum divaksin.

“Dan jumlah (kelompok, red) ini banyak,” ucap Dicky.

Untuk itu, meskipun sebagian anak-anak Indonesia saat ini di atas 6 tahun sudah divaksin, tapi mereka yang masih di bawah 5 tahun belum bisa divaksin.

Belum lagi sebagian kelompok anak-anak diatas 6 tahun belum sempat di booster.

“Ini yang artinya perlu waspada infeksi yang bisa berdampak pada fungsi hepar pada anak,” kata Dicky.

Hepar atau hati sendiri juga merupakan organ yang sangat sering terganggu dengan infeksi Covid-19.

Dalam pertemuan para peneliti pandemi Global terakhir, Dicky memaparkan bahwa salah satu satu penyebab adanya hepatitis ini yakni adalah adanya keberadaan varian baru atau sub-varian baru dari penyebab Covid-19.

Sejauh ini, fakta ilmiah mengatakan bahwa infeksi Covid-19 menyebabkan lemahnya salah satu sistem pertahanan tubuh dan menyerang sel t sendiri yang merupakan bagian penting dari sistem imun tubuh.

Itulah kenapa dia berujar, sejak awal tidak bisa mengandalkan orang yang sudah terinfeksi agar bisa melawan infeksi varian berikutnya.

Dia menambahkan fenomena penurunan fungsi pertahanan tubuh sebagian kelompok orang.

“Tidak bisa kemudian kita mengandalkan angka sero survei yang menyatakan 90 sekian persen masyarakat Indonesia sudah memiliki antibodi,” pungkasnya. (disway)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga